Bagi Masyarakat, Pemerintah Sediakan Ruang Terbuka Hijau dan Biru
Ruang Terbuka Biru (Foto: mib)

JAKARTA, INAPEX.co.id, – Tidak disangkal lagi, manusia membutuhkan udara segar dan air bersih. Maka dari itu, pemerintah tidak hanya menyediakan ruang terbuka hijau, namun juga ruang terbuka biru.

Kebutuhan masyarakat akan air mempengaruhi persediaan air bawah tanah yang makin lama makin menipis.

Tak menutup kemungkinan, air tanah akan habis sebab terus dipergunakan. Guna mencegah hal ini, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menyiapkan pembangunan waduk dan bendungan.

“Selain ruang terbuka hijau (RTH), kami juga akan membuka ruang terbuka biru (RTB). Ruang ini adalah pembangunan waduk dan bendung-bendung untuk menangkap air,” papar Wakil Gubernur DKI Jakarta Djarot Saiful Hidayat saat sambutan acara Rapat Kerja Daerah (Rakerda) DPD REI DKI Jakarta 2016, di Hotel JS Luwansa, Jakarta, Selasa (28/10).

Djarot menuturkan bahwa persoalan air yang dialami Jakarta jadi begitu krusial. Daerah tangkapan air di hulu, yaitu Bogor, sudah tak maksimal. Sementara di bagian hilir, yakni Jakarta, air tanah juga secara terus-menerus diambil.

Djarot menjelaskan, sekarang sudah mulai terasa, saat musim kemarau panjang tiba, kesulitan mengambil air dari bawah tanah.

“Ke depan, faktor lingkungan ini dapat perhatian dari kita semua. Hitungannya harus memang betul. Perbanyak daerah resapan air, bikin sumur serapan yang besar-besar,” imbuh Djarot.

Agar tak banjir, Pemprov akan melarang daerah-daerah cekung untuk dibangun perumahan. Alih-alih jadi kawasan perumahan, area ini akan dibangun waduk.

Dengan begitu, air dapat ditampung dan disimpan hingga tak langsung mengalir ke laut.

Adapun RTH di Jakarta yang tersedia oleh Pemprov, tambah Djarot, hanya 10 persen. Ditambah dengan RTH yang dibuat oleh masyarakat sebanyak 10 persen, maka totalnya 20 persen.

Ia mengingatkan kepada kalangan pengembang, terutama yang tergabung dalam REI, jika mau bangun gedung mesti mempertimbangkan RTH.

Terlepas dari itu, pada kesempatan berbeda, kebutuhan air minum yang bertambah mendorong pemerintah untuk terus menjalankan serangkaian inovasi.

Salah satu teknologi yang telah diterapkan dalam pemenuhan kebutuhan air ialah mengubah air laut jadi air minum. Teknologi ini bernama Sea Water Reverse Osmosis (SWRO).

“SWRO, yang paling dekat ada di Kepulauan Seribu, Jakarta, itu sudah beroperasi. Air ini langsung bisa diminum, setara dengan air mineral dalam kemasan,” jelas Direktur Pengembangan Sistem Penyediaan Air Minum, Direktorat Jenderal Cipta Karya Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Mochammad Natsir, di Kementerian PUPR, Jakarta, belum lama ini.

Keuntungan lainn dari teknologi SWRO ialah masyarakat tak perlu memasak air untuk minum. “Di beberapa tempat sudah kita lakukan, yang terbesar di Tanjung Pinang, Riau, yakni 50 meter kubik per detik,” jelas Natsir.

SWRO merupakan salah satu cara untuk memproduksi air baku. Jika di darat susah mencari air baku, masyarakat dapat menggunakan air laut.

Walaupun teknologi SWRO dan perakitannya sudah diproduksi di dalam negeri, namun membrannya masih impor.

(kps)