Maket Collins Baulevard. (Foto: trinitiland)

JAKARTA, INAPEX.co.id – PT Perintis Triniti Properti (Triniti Land) klaim penjualan Collins Boulevard 60% sold out. Bahkan proyek tersebut mulai pembangunan (ground breaking) tower pertama proyek mixed use Collins Boulevard (2,4 ha) di Jalan MH Thamrin, Kota Tangerang, Banten.

Masih di tower yang sama, saat ini dipasarkan unit yang lebih besar yang disebut Hyde Residence.

“Hyde Residence masih merupakan chapter pertama dari pengembangan Collins Boulevard. Yang kita pasarkan saat ground breaking kemarin 90 persen tipe studio (21,95 m2). Sementara untuk Hyde Residence ini tipe 1-3 kamar (36-89 m2). Hyde sendiri mengambil konsep Hyde Park di Melbourne, Australia, yang akan kita terapkan di proyek ini,” jelas Bong Chandra, founder Triniti Land saat memperkenalkan Hyde Residence untuk kalangan media di lokasi proyek, belum lama ini.

Tower pertama mencakup 1.000 unit hunian dari total tiga tower yang akan dibangun sebanyak 2.400 unit selain perkantoran, hotel, dan lifestyle plaza seluas 16 ribu m2. Tipe studio dipasarkan mulai dari Rp400 jutaan, Hyde Residence mulai dari Rp800 jutaan.

Beberapa konsep desain untuk memaksimalkan ruang diterapkan pada unit Hyde Residence. Salah satunya konsep bay window yang mengoptimalkan utilisasi balkon yang konsepnya konon sudah banyak diterapkan di apartemen luar negeri.

Balkon yang menjadi area luar dimasukan ke dalam dengan dibuat sofa bed dan bagian bawahnya untuk unit outdoor AC. Dengan konsep ini apartemen memiliki tambahan luas ruang hingga 15 persen.

“Konsep kami butik developer. Jadi kami tidak fokus pada size dan produk massal. Lahan yang terbatas menjadi tantangan untuk konsep maupun desain yang paling dibutuhkan. Makanya kami terapkan bay window dan pengadaan fasilitas yang paling dibutuhkan penghuni di setiap proyek kami,” pungkas Bong.

Sementara itu, secara terpisah menjelang akhir tahun 2018, pengembang Agung Podomoro Land menggelar program spesial bertajuk ‘Home for Millennials.

Program ini dirancang khusus untuk para millennial dengan menghadirkan Hunian cicilan hanya Rp.2 Jutaan.

Program ini didasarkan pada temuan Riset Badan Pusat Statistik (BPS) mengenai adanya peralihan konsumsi di masyarakat.

Kepala BPS Suhariyanto mengakui, untuk kalangan usia produktif saat ini lebih senang membelanjakan uangnya untuk mencari pengalaman ketimbang memiliki barang.

Agung Wirajaya, Assistant VP, Head of Strategic Residential Marketing Division mengatakan, Salah satu alasan mengapa generasi milenial kurang giat menabung dan berinvestasi adalah mereka cenderung menghabiskan uang mereka untuk jalan-jalan mencari pengalaman serta mengunjungi tempat-tempat baru.

Hal ini tentu sangat disayangkan, mengingat pentingnya berinvestasi sejak dini. Akan lebih baik jika sebagian dari penghasilan generasi milenial dialihkan untuk berinvestasi. Contohnya melalui pembelian properti.

Data dari Bappenas mengemukakan bahwa Indonesia memiliki 250 juta jiwa, 60% dari jumlah tersebut adalah usia produktif (15-64 tahun) yang menjadi kekuatan bangsa Indonesia. Sedangkan jumlah generasi milenial di Indonesia (usia 22-37 tahun) adalah 34,45% atau 90 juta dari total jumlah penduduk Indonesia.

Agung menjelaskan, generasi milenial menguasai 40% kelompok pembeli potensial properti di Indonesia. Dan angka tersebut diperkirakan akan meningkat menjadi 70% pada 2030.

Faktor generasi milenial yang lebih mementingkan gaya hidup serta pencarian pengalaman baru, ditambah semakin meningkatnya harga jual rumah, menjadi perhatian khusus dan mendasari dirancangnya program khusus Hunian Angsuran hanya Rp2jutaan.

Semakin bertambahnya usia tentu para milenial harus mulai berpikir lebih bijak dalam mempersiapkan masa depan. Caranya adalah dengan mulai berinvestasi dan mengelola keuangan. Pilih instrumen investasi yang aman dan menguntungkan, yaitu pembelian properti. Karena khususnya di Indonesia, ketersediaan lahan sangatlah terbatas, jelas Zaldy Wihardja, Assistant Vice President, Residential Marketing

Zaldy menambahkan Walaupun banyak kendala yang dihadapi milenial saat ingin membeli properti, namun mereka harus memaksakan diri membelinya. Karena kenaikan harga properti selalu lebih tinggi daripada inflasi.

Artinya properti adalah alat investasi yang aman dan menguntungkan, sekaligus dapat menjadi penghasilan tambahan (passive income) serta porto folio income melalui kenaikan harga properti tiap tahun.