Tol Darurat Rawan Bahaya Jika Dibuka 24 Jam
Tol Darurat (Foto: republika)

 

JAKARTA, INAPEX.co.id – Pada Lebaran 2017 sebagian ruas dari jaringan Jalan Tol Trans-Jawa akan dibuka darurat. Rencananya, jalan ini akan dibuka selama 24 jam, tetapi tidak sepenuhnya.

Dari panjang 337 kilometer, 110 kilometer di antaranya bisa difungsikan selama 24 jam nonstop. Ruas ini terbentang mulai dari Brebes Timur sampai Semarang.

Sedangkan, fungsionalisasi 227 kilometer lainnya (ruas Semarang hingga Surabaya) untuk difungsikan 24 jam masih dikaji. Menurut Ketua Umum Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) Danang Parikesit, di satu sisi, rencana pemerintah mengoperasikan ruas tol darurat selama 24 jam agak berbahaya.

Akan tetapi, di sisi lain pemerintah dihadapkan pada masalah pemenuhan aspek infrastruktur pendukung guna mendorong kelancaran hajat tahunan ini.

“Sebenarnya ini sudah masuk wilayah abu-abu, apakah benar lebaran masuk dalam kondisi darurat. Sehingga, dia (jalan tol) dimungkinkan difungsikan sebelum laik fungsi,” ucap Danang kepada pers, belum lama ini.

Ada berbagai hal yang mempengaruhi pengoperasian tol darurat selama 24 jam berbahaya. Pertama, dari sisi infrastruktur, walaupun sudah bisa dilewati namun kondisi jalan belum sempurna.

Hal ini dikarenakan bahu jalan yang belum dilapisi apa pun. “Kalau badan jalan kan itu memang sudah ada perkerasan,” jelas dia.

Secara umum, kondisi jalan tol darurat hanya berlapis beton tipis atau lean concrete setebal 10 sentimeter. Sedangkan, di sisi kiri dan kanan masih diselimuti tanah yang berpotensi menimbulkan debu saat kendaraan melewatinya.

Persoalan lainnya adalah belum selesainya beberapa pekerjaan proyek, seperti pembuatan saluran drainase. Hal ini tentu berbahaya bagi siapa pun yang akan melewatinya.

“Kalau ada yang melewati bahu jalan, terus terlalu ke pinggir, kan bisa terperosok,” tutur dia.

Danang juga melihat masih sedikitnya rambu yang terpasang, seperti marka jalan dan petunjuk arah. Hal ini berpotensi membuat masyarakat kebingungan dan tersesat ketika ingin mencari jalan keluar.

Sementara, minimnya marka jalan juga berpotensi menimbulkan kecelakaan kendaraan. Pasalnya, pengemudi tidak tahu dimana jalur mereka yang sebenarnya, ketika ingin menyalip kendaraan yang ada di depannya.

“Terakhir, penggunaan jalan pada malam hari. Selain karena rambu yang minim, lampu penerangan juga sedikit. Sehingga jalan gelap,” jelasnya.

Danang menyarankan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) bisa menambah jumlah personel yang ditugaskan untuk berjaga-jaga di sepanjang jalur tol yang dibuka darurat. Khususnya di ruas-ruas yang diprediksi rawan kecelakaan. Dengan demikian potensi kecelakaan pun bisa diminimalisir bahkan tidak terjadi.