Sekarang Pembelian Rumah Murah Lebih Mudah daripada Dulu
Ilustrasi. (Foto: dok.inapex)

JAKARTA, INAPEX.co.id – Sebaiknya diketahui saat ingin menjual rumah dengan kondisi masih Kredit Pemilikan Rumah (KPR). Apalagi, KPR seringkali dijadikan sebagai solusi untuk bisa beli dan memiliki rumah dengan sejumlah dana yang terbatas.

Kemudian, dalam proses pengajuan KPR, selaku pemohon akan menjadi nasabah pengguna KPR dari bank tertentu (bank penerbit).

Artinya, debitur akan memiliki sebuah rumah yang telah dibayarkan/dilunasi oleh bank (pemberi kredit) kepada pihak pengembang. Dengan begitu, debitur akan memiliki sejumlah kewajiban (utang) kepada pihak bank.

Selanjutnya, kewajiban ini menjadi tanggungan debitur membayar dalam bentuk sejumlah uang muka yang disepakati.

Ditambah dengan sejumlah sisa utang plus bunga yang akan debitur bayarkan dalam bentuk cicilan bulanan. Kemudian, bisakah rumah yang masih menggunakan fasilitas KPR ini dijual oleh pihak debitur selaku pemiliknya?

Pada dasarnya, rumah yang dibeli dengan menggunakan skema KPR telah menjadi milk debitur selaku pemohon KPR.

Tapi, karena proses pembelian ini dilakukan dengan menggunakan sejumlah pinjaman yang didanai oleh pihak bank dalam bentuk KPR, maka Sertifikat Hak Milik (SHM) rumah tersebut masih dipegang oleh bank sebagai jaminan atas sejumlah dana yang mereka pinjamkan.

Selanjutnya, jelas bahwa untuk mendapatkan sertifikat tersebut harus terlebih dahulu melakukan pelunasan atas sejumlah utang yang dimiliki kepada pihak bank.

Meski begitu, debitur selaku pemilik rumah tersebut bisa saja melakukan penjualan atas rumah yang masih dalam fasilitas KPR tersebut, selama hal ini dilakukan dengan cara yang tepat.

Nah, bagaimana cara menjualnya? Berikut tips menjual rumah yang masih KPR.

1. Melakukan Pelunasan Terlebih Dahulu (lebih awal)

Ini merupakan cara paling mudah yang bisa dilakukan untuk menjual rumah debitur. Yaitu, melakukan pelunasan lebih awal terhadap sisa utang KPR tersebut agar mendapatkan SHM dan bisa menjual rumah tersebut kepada pihak lain.

Tapi akan dikenakan sejumlah denda/pinalti akibat pelunasan sebelum tenor yang sudah disepakati sejak awal.

Jumlah denda biasanya lebih kecil dibanding sisa bunga pinjaman yang masih harus dilunasi untuk cicilan normal (sesuai tenor awal).

Sebab denda ini akan dihitung berdasarkan persentase tertentu dari sisa jumlah pokok utang yang dimiliki.

2. Menjual Rumah dan Proses Pelunasan

Dalam kondisi tertentu, bisa saja debitur menjual rumah tersebut kepada orang lain meski masih KPR, dan setelah dilakukan pelunasan, SHM bisa diambil dari pihak bank untuk diserahkan kepada pihak pembeli.

Namun dalam hal ini, debitur wajib memberitahu kondisi KPR rumah tersebut kapada pihak pembeli, sehingga proses ini bisa berjalan dengan baik dan lancar.

Setidaknya ada beberapa pilihan cara yang bisa dipertimbangkan, antara lain:

Pembeli melakukan pelunasan kepada pihak bank, sehingga SHM rumah itu bisa diambil dan status rumah akan berubah secara otomatis menjadi bukan jaminan lagi.

Pembeli membayarkan sejumlah dana kepada debitur selaku penjual, di mana sebagian dana ini akan dibayarkan untuk meluanasi KPR, sehingga SHM bisa diambil dan diserahkan kepada pembeli.

Sedangkan sebagian lainnya, dana itu akan menjadi hak debitur sebagai penjual.

Setelah proses pelunasan KPR kepada pihak bank dan juga pembayaran sejumlah dana yang disepakati untuk debitur selaku penjual, maka debitur dan pihak pembeli harus menyelesaikan akad jual beli di depan notaris.