Nasabah Meninggal? Inilah Kategori KPR yang Bisa Dikatakan Lunas
ilustrasi. (Foto: dok.inapex)

 

JAKARTA, INAPEX.co.id, – Tingginya tingkat suku bunga Kredit Pemilikan Rumah (KPR) dinilai tak ideal bagi industry property di Indonesia.

Direktur Eksekutif Hipmi Tax Center Ajib Hamdani mengakui tingginya tingkat suku bunga KPR diprediksi tidak akan mampu bersaing dengan Singapura yang diketahui telah mematok suku bunga KPR jauh lebih rendah yakni di kisaran 3%-5%.

“Suku bunga KPR yang tinggi sangat tidak ideal untuk sektor properti. Bagaimana mau bersaing dengan Singapura yang 3%-5%? Indonesia saja saat ini 13% sampai 15%,” ujarnya dalam IDX Channel, baru – baru ini.

Menurut Ajib, besaran tingkat suku bunga disektor properti bisa bergantung dari dua sisi kebijakan seperti fiskal maupun moneter.

“Ini dibutuhkan sektor properti karena bergantung berpengaruhnya tingkat suku bunga,” katanya.
Namun demikian, tingkat suku bunga KPR yang ideal untuk Indonesia seharusnya hanya berbeda 5% dari suku bunga tabungan atau deposito. Perbankan Tanah Air mematok bunga deposito saat ini rata-rata di kisaran 6%.

“Bunga savings atau deposito saja 6%. Tingkat suku bunga pasaran tingkat savings 6% + 5%. Keniscayaan ekonomi karena bunga tinggi untuk ekonomi,” tukasnya.

Sementara itu, Bank BTN akan memaksimalkan teknologi digital untuk mendukung core business-nya khususnya mempercepat program pembangunan sejuta rumah.

Kemajuan teknologi ini untuk memperbaiki proses bisnis sehingga dapat memberikan layanan yang lebih baik dan lebih cepat kepada masyarakat.

“Persaingan perbankan saat ini begitu hebat dan kami harus bisa masuk pada era persaingan ini. Makanya kami mempersiapkan basis digital banking untuk terus memperbaiki layanan dan memenangkan persaingan khususnya untuk core business yang menjadi prioritas kami yaitu perumahan rakyat,” tutur Direktur Utama Bank BTN Maryono, saat membuka Rapat Kerja Anggaran Perusahaan (RKAP) Bank BTN 2017 di Jakarta.

Transformasi bisnis berbasis digital ini akan jadi prioritas Bank BTN di tahun 2017. Maryono juga menyatakan sangat serius dan mengajak seluruh jajarannya untuk menyambut transformasi bisnis berbasis digital ini.

Di sisi lain, tahun ini akan jadi tahun yang penuh tantangan namun ada beberapa hal yang membuat optimistis yakni indikator makro ekonomi dan perbankan Indonesia menampilkan tren membaik.

Hal tersebut tak terlepas dari kebijakan pemerintah untuk penguatan perekonomian di tahun sebelumnya. Berhubungan dengan tren pertumbuhan perbankan ini, membuat keyakinan akan peluang bisnis terutama untuk sektor perumahan jadi potensi riil dan cukup potensial untuk perusahaan.

Pemahaman dan penguatan pada generasi milenial ini akan jadi perhatian manajeman untuk mengantisipasi persaingan.

Bank BTN akan memperkuat pengembangan teknologi digital khusus dan umum untuk mendukung layanan jaringannya.

“Jaringan teknologi digital ini untuk memperkuat bisnis mortgage dan konstruksi yang mendukungnya. Ini juga untuk meningkatkan low cost dan sustainable funding agar bisnis perusahaan tetap didukung dengan ketersediaan dana berbiaya murah. Ujung dari semua ini adalah hasil kerja yang tinggi dengan perolehan laba perusahaan sesuai target yang ditetapkan,” imbuhnya.