Ilustrasi. (Foto: dok.inapex)
Ilustrasi. (Foto: dok.inapex)

JAKARTA, INAPEX.co.id, – Hasil survei Bank Indonesia (BI) menunjukkan sebagian besar responden menilai bahwa faktor utama yang menghambat pertumbuhan bisnis properti yaitu suku bunga KPR (20,18%), uang muka rumah (18,01%), perizinan (16,22%), kenaikan harga bahan bangunan dan pajak (14,28%).

Kemudian berdasarkan lokasi proyek, suku bunga KPR tertinggi terjadi di Lampung (13,67%) sedangkan suku bunga KPR terendah di Nanggroe Aceh Darussalam (10,39%). Pembiayaan Properti Residensial Dari sisi pembiayaan, sejumlah pengembang (56,24%) menyebutkan bahwa dana internal perusahaan masih menjadi sumber utama pembiayaan pembangunan properti.

Komposisinya, laba ditahan (48,79%), modal disetor (38,40%), lainnya (9,46%), dan joint venture (3,35%). Kemudian, dari sisi konsumen, fasilitas KPR tetap menjadi pilihan utama dalam melakukan transaksi pembelian properti.

Survei mengindikasikan sebagian besar konsumen (74,77%) masih memilih KPR, walaupun secara proporsi menurun dibanding periode sebelumnya (75,68%). Proporsi konsumen yang memilih skema pembayaran tunai bertahap sebesar 17,62%, meningkat dibanding triwulan sebelumnya (16,44%).

Sebagai informasi, tingkat bunga KPR yang diberikan oleh perbankan khususnya kelompok bank persero berkisar antara 9%-12%. Riset juga memaparkan terjadi penurunan penyaluran KPR dan KPA pada triwulan III-2016.

Tercatat sebesar Rp352,65 Triliun atau tumbuh sebesar 0,48% (qtq), turun dibandingkan 3,56% (qtq) di triwulan sebelumnya. Sejalan dengan pertumbuhan KPR dan KPA, pertumbuhan total kredit perbankan mengalami pelemahan sebanyak -0,52% (qtq) setelah sempat tumbuh 5,24% (qtq) di triwulan silam.

Selain itu, pertumbuhan penjualan properti residensial di triwiulan III-2016 justru mengalami peningkatan dibandingkan triwulan sebelumnya, dari 4,02% (qtq) menjadi 4,65% (qtq).

Peningkatan penjualan terjadi untuk semua tipe rumah, terutama rumah tipe kecil sejalan dengan program satu juta rumah yang dicanangkan pemerintah.

Tingginya penjualan rumah murah itu seiring meningkatnya realisasi Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP) di triwulan III-2016, yakni sebesar Rp3,02 Triliun naik dibandingkan Rp0,32 Triliun pada triwulan sebelumnya.

Pada kuartal IV-2016, indeks harga properti residensial secara triwulanan (qtq) diperkirakan masih mengalami kenaikan (0,28%, qtq), melambat dibanding 0.36% (qtq) pada triwulan III-2016.

Kenaikan harga rumah terendah diprediksi terjadi pada rumah tipe besar (0,22%, qtq). Sedangkan menurut wilayah, harga rumah diproyeksi menurun di Manado (-0,02%, qtq), Jabodetabek-Banten (-0,13%, qtq) dan Pontianak (-0,455, qtq).

Terakhir hasil survei BI menyebut pencarian dana FLPP sampai dengan triwulan III-2016 tercatat sebesar Rp3,71 Triliun dari Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran (DIPA) FLPP tahun 2016 senilai Rp9,23 Triliun.

 

(Okz)