Kawasan segitiga emas Jakarta. (Foto: istimewa)

 

JAKARTA, INAPEX.co.id – Ternyata inilah daya tarik investasi properti di Indonesia. Seperti diketahui, Indonesia merupakan negara berkembang (emerging market) yang memiliki potensi besar untuk tumbuh dan maju.

Banyaknya jumlah penduduk dan potensi ekonominya jadi daya tarik investasi yang diincar investor. CEO Leads Property Indonesia Hendra Hartono menilai bahwa ada beberapa kelebihan dari sisi bisnis yang dipunyai Indonesia yang tak ada di negara lain.

“Ekonomi Indonesia  terbesar di kawasan Asia Tenggara, khusus untuk sektor propertinya, Indonesia juga sangat potensial dengan perkembangan yang luar biasa,” paparnya kepada pers di Jakarta, belum lama ini.

Walaupun beberapa tahun terakhir bisnis properti sedikit gairahnya, sektor ini masih jadi incaran pebisnis asing. Salah satu parameternya yaitu berlimpahnya gedung pencakar langit di Jakarta. Pembangunan gedung tinggi (supertall) adalah gambaran besar potensi ekonomi dan prospek yang menjanjikan.

Selain itu, hotel terbaik di dunia nyatanya ada di Indonesia yakni Hotel Nihiwatu di Pulau Sumba. Pengembangan infrastruktur yang besar juga melibatkan pemerintah dan swasta akan membuat investor asing terus tertarik untuk berinvestasi di Indonesia terutama di bidang properti.

“Jakarta peringkatnya hanya 56 di bawah Mumbai dan Kairo, tapi secara bisnis menjadi incaran utama investasi asing. Ini menjadi tantangan agar kota ini nyaman, yaitu nyaman untuk investasi dan nyaman untuk ditinggali,” tuturnya.

Terlepas dari itu, pada kesempatan berbeda, hingga tahun 2021, pemerintah rencananya akan membangun 11 tol untuk menghubungkan wilayah-wilayah di kawasan Jakarta-Bogor-Depok-Tangerang-Bekasi (Jabodetabek). Sebagian tengah memasuki tahap proses konstruksi, sedangkan yang lainnya masih menanti kesiapan lahan.

Menurut data yang diterima perstotal panjang 11 tol tersebut sekitar 263 kilometer dengan investasi sebanyak Rp78 triliun. Sedangkan biaya tanahnya Rp14,69 triliun ditekankan kepada badan usaha jalan tol (BUJT). Pemerintah menanggung biaya konstruksi senilai Rp38,29 triliun.

Berikut ini 2 dari 11 tol perkembangan terakhir dan badan usaha jalan tol (BUJT) masing-masing.

  1. Cengkareng-Batu-Ceper-Kunciran

Tol tersebut dibangun oleh PT Jasa Marga (Persero) Tbk di bawah anak usaha, PT Marga Kunciran Cengkareng (MCK). Sepanjang 14,19 kilometer, tol tersebut dibagi jadi 4 seksi dan membutuhkan biaya berjumlah Rp3,5 triliun.

Biaya tanahnya sekitar Rp1,219 triliun, sedangkan biaya konstruksinya sekitar Rp1,34 triliun. Perkembangannya sekarang ini masih dalam proses pembebasan lahan sebanyak Rp18,87 persen. Adapun konstruksinya menanti kesiapan lahan. Rencananya tol akan beroperasi pada 2019.

  1. Kunciran-Serpong

Lewat anak usahanya yaitu PT Marga Trans Nusantara, Jasa Marga kembali terlibat pembangunan jalan tol di Jabodetabek. Tol Kunciran-Serpong dibangun dengan dana Rp2,6 triliun dan mempunyai panjang 11,19 kilometer yang terbagi atas dua seksi. Di luar investasi, biaya tanahnya sekitar Rp989 miliar dan konstruksi Rp760 miliar. Sekarang ini, proses penyerapan dana pembebasan lahan baru hingga 29,39 persen. Targetnya beroperasi pada 2019.