Ilustrasi. (Foto: dok.inapex)
Ilustrasi – Direktur Consumer Banking BTN, Handayani menyerahkan penghargaan terhadap peserta pameran IPEX 2017. (Foto: dok.inapex)

 

JAKARTA, INAPEX.co.id – Ternyata ini yang menjadi alasan dikawasan Segitiga Emas selalu dilirik kalangan investor. Dalam dunia bisnis properti, kawasan segitiga emas atau golden triangle menjadi primadona.

Tak hanya di Jakarta yang mencakup koridor Sudirman, Kuningan, dan Thamrin masih sangat menarik, kendati bermunculan kandidat golden triangle pusat komersial baru.

Pamor dan reputasi kawasan segitiga emas dengan pusat-pusat komersial dan bisnis terpadunya yang tak tergoyahkan hingga sekarang ini. Kenyataan itu, dibuktikan dengan pertumbuhan kinerja positif subsektor perkantoran diberbagai indikator.

Hal tersebut juga terlihat dari tingkat kekosongan ruang menurun menjadi 5,6 persen (kuartal I 2014), harga sewa mengalami perubahan 2,5 persen dan akan terus menunjukkan tren meningkat menjadi rerata 27,28 dollar AS atau Rp 311.250 per meter persegi per bulan dan Rp 45,4 juta per meter persegi untuk ruang kantor strata atau meningkat 4,3 persen dari kuartal sebelumnya.

Kenaikan harga akan terus berlanjut karena tidak ada pasokan baru pada tiga bulan pertama tahun ini dan masih aktifnya transaksi jual dan sewa.

 

Kawasan segitiga emas Jakarta. (Foto: istimewa)
Kawasan segitiga emas Jakarta. (Foto: istimewa)

 

Senior Associate Director and Head of Research & Advisory Cushman Arief N Rahardjo membenarkan, bahwa tren positif aktivitas transaksi dan permintaan sewa terjadi karena ekspansi bisnis dan juga relokasi penyewa.

Hanya, karena terbatasnya pasok yang masuk yang menyebabkan para penyewa hanya mendapatkan ruang kantor dengan luas di bawah 300 meter persegi.

“Sementara permintaan dan transaksi ruang perkantoran dalam ukuran besar tidak dapat terpenuhi karena ketersediaan ruang yang sangat terbatas di sebagian besar perkantoran eksisting akibat tigkat hunian sangat tinggi yakni 94,4 persen,” tutur Arief , di Jakarta, beberapa waktu lalu.

Positifnya kinerja perkantoran di kawasan golden triangle tersebut, jelas membuat para pengembang kemudian terpincut berlomba membangun properti sejenis.

Tak hanya pengembang dengan bisnis inti properti macam Lippo Karawaci Group, Sinarmas Land Group, dan Ciputra Group, namun juga diikuti pengembang yang sebelumnya berbasis non-properti.

 

Kawasan segitiga emas di Cikarang. (Foto: istimewa)
Kawasan segitiga emas di Cikarang. (Foto: istimewa)

 

Secara terpisah, pengembangan Kawasan Segitiga Emas juga terjadi di wilayah timur Kota Jakarta. Lippo Group melalui anak usahanya, Lippo Cikarang, juga merintis proyek segitiga emas baru serta mengalokasikan dana Rp 250 triliun.

Hingga saat ini, Lippo telah menjual 3 tower apartemen atau kondominium di lokasi tersebut. Mega proyek yang dijuluki Orange County (OC), dibangun Central Business District atau CBD, layaknya segitiga emas di Jakarta.

Orange County menjadi kawasan segitiga emas baru di Koridor Timur Jakarta yaitu Cikarang, Bekasi, karena lokasinya tepat di jantung area antara Lippo Cikarang, Delta Mas, dan Jababeka, serta memiliki akses gerbang tol tersendiri, yaitu exit tol Cibatu. “Tiga tower sudah laku semua,‎” kata CEO Lippo Home Ivan Budiono.

Kawasan Orange County, di area Lippo CBD dimulai pembangunan tahap pertama di atas lahan seluas 19,5 hektar yaitu pembangunan tower kondominium antara lain Irvine Suites dan Westwood Suites.

Ivan menambahkan, pihaknya cukup puas dengan capaian proyek ini. Menurutnya dengan harga termurah Rp 600 juta, apartemen atau kondominium yang ditawarkan Lippo sudah sesuai keinginan pangsa pasar yang dibidik, pembelinya antara lain dari Jakarta, para pemilik pabrik, dan orang asing yang domisili di Indonesia. “Harganya kira‎-kira Rp 14-15 juta per meter persegi. Kalau per unit harganya dari Rp 600 juta,” jelasnya.

Kawasan ini berdekatan dengan rencana lokasi pembangunan dua infrastruktur strategis, yaitu Karawang International Airport dan Cilamaya Deep New Port.

Orange County didukung dengan kawasan industri yang mencakup perusahaan-perusahaan terkemuka dunia yang menanamkan investasi dalam bentuk industri manufaktur, dengan label nama-nama besar, seperti Toyota, Honda, Suzuki, Hyundai, Hankook, Danone, Coca-Cola, dan Bridgestone.

Sehingga menjadikan area ini memiliki populasi ekspatriat tinggi. Komunitas ekspat Jepang tercatat lebih dari 3.500 orang, juga warga Korea, Taiwan, China, dan warga asing lainnya.