Ilustrasi konsumen properti di Indonesia Properti Expo 2017. (Foto: dok.inapex)
Ilustrasi konsumen properti di Indonesia Properti Expo 2017. (Foto: dok.inapex)

 

JAKARTA, INAPEX.co.id, – Maraknya produk properti layaknya apartemen dan perumahan yang menggunakan konsep syariah cukup berbeda dengan produk properti konvensional lainnya. Konsep pengembangan apartemen dan perumahan syariah tersebut berdasarkan pada sejumlah faktor, diantaranya dan fasilitas ibadah dari perumahan dan juga pembayaran tanpa riba.

Hal tersebut khususnya diterapkan dalam segi pembiayaan dan juga transaksi dengan menghilangkan posisi perbankan untuk fasilitas kredit pemilikan rumah (KPR). Beberapa diantaranya dari perumahan tersebut malah memiliki lembaga keuangan sendiri yang diatur perusahaan.

Konsumen hanya sibuk dengan pihak pengembang dan juga notaris yang dipilih, sesudah kesepakatan harga serta tenor KPR yang disepakati.

Ahli Perbankan Syariah sekaligus Anggota Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia (DSN-MUI) Gunawan Yasni menjelaskan, konsep pembayaran tanpa riba merupakan sebuah akad jual beli tangguh biasa. Dalam istilah perbankan syariah disebut pembiayaan murabahah.

“Jadi sebenarnya harga properti yang mau dijual secara tunai ditambah margin khusus yang digunakan sesuai jangka waktu yang diminta untuk menyelesaikan pembayarannya,” tutur Gunawan kepada pers, belum lama ini.

Misalnya, konsumen A membeli unit B senilai Rp790 juta. Dengan konsep KPR syariah, harga tunai ini berganti jadi Rp890 juta per kelipatan lima tahun. Perubahan harga jadi Rp.100 juta lebih besar dalam lima tahun, sesudah memperhitungkan tingkat inflasi dan situasi ekonomi. Hal tersebut dimaksudkan, apabila konsumen ini hendak menggunakan fasilitas KPR syariah bertenor lima tahun, maka uang yang mesti dibayarkan sekitar Rp.890 juta.

Kemudian, apabila konsumen menerapkan tenor yang lebih panjang, yakni sepuluh tahun, maka harga rumah yang mesti ditanggung jadi Rp.990 juta. Besarnya harga ini disepakati dan diinformasikan sebelum perjanjian pengikatan jual beli atau PPJB.

Kemudian kesepakatan diperoleh, PPJB selanjutnya ditandatangani di depan notaris yang dipilih pengembang. Pembayaran dengan memakai konsep syariah, kata Gunawan, tak memberikan perasaan khawatir untuk para konsumen sebab tak ada ketentuan naik turun bunga layaknya transaksi KPR konvensional.

Konsumen tentu juga diuntungkan dengan cicilan yang pasti tiap bulannya yang mesti dibayarkan ke pengembang. “Jadi orang sudah nggak berpikir tiba-tiba suku bunga naik dan bayar cicilannya bertambah karena untuk menuritup bunganya karena dari awal sudah ditentukan berapa dan kapan selesainya,” paparnya.