Taman Bermain Nickelodeon, Dapat 30.000 Penolakan dari Filipina
Taman Bermain Nickelodeon (Foto: nickalive)

 

FILIPINA, INAPEX.co.id, – Rencana Viacom membangun taman bermain dan hiburan dengan nama dan lisensi Nickelodeon sudah menimbulkan kontroversi dan mendapatkan 30.000 tanda tangan penolakan dari masyarakat Filipina.

Para ahli lingkungan terus berupaya taman hiburan yang nantinya dibuka pada 2020 dan dibangun di Coron, sebuah kepulauan di Provinsi Palawan tak jadi dibangun.

Proyek tersebut diakui Viacom akan menempati lahan seluas 400 hektar termasuk 16 pulau pasir putih yang ada di sekitar Coron.

Lebih menariknya, pengembangan tersebut juga termasuk pariwisata bawah air. Viacom rencananya membangun restoran dan lounge enam meter di bawah permukaan laut.

Pemerintah Filipina juga sepakat dengan masyarakatnya. Sekretaris Presiden Rodrigo Duterte Bidang Lingkungan Gina Lopez bahkan bersumpah melarang proyek taman bermain ini dilanjutkan.

“Anda tidak bisa menghancurkan koral-koral di bawah laut hanya untuk taman bermain, tidak boleh. Tidak ada nominal uang seberapa besar pun yang setara dengan kesejahteraan petani dan nelayan kami,” papar dia.

Setelah banyaknya penolakan diterima, Coral World Park Undersea Resort (CWP), sebuah pengembang properti bawah air dan juga mitra Viacom segera membuat pernyataan bahwa tak akan ada bangunan di bawah laut seperti dalam pengumuman sebelumnya.

“Satu-satunya infrastruktur yang dibangun adalah di atas air dan semua pengembangan akan dilakukan di daratan serta hanya 100 hektar yang dialokasikan untuk fasilitas Nickelodeon dan 30 hektar untuk hiburan,” tutur CWP.

Menurut CWP saat proyek ini selesai, akan jadi program konservasi koral terbesar di Asia dengan satwa bawah air terbesar untuk lima spesies hewan, seperti lumba-lumba, kuda laut, kura-kura, ikan duyung, dan hiu paus.

Meski sudah dikonfirmasi tak akan membangun di bawah laut, sang pencetus petisi, Anna Oposa yakin proyek taman hiburan ini akan terus membawa malapetaka permanen pada Palawan yang sudah ditetapkan UNESCO sebagai cagar biosfer.

“Berlawanan dengan pernyataan bahwa taman bermain bawah laut akan memberikan perlindungan kepada laut dan spesiesnya justru akan terjadi sebaliknya. Dengan membangun struktur buatan maka bisa merusak dan mengganggu ekosistem laut Palawan, Perbatasan Terakhir kami,” tegasnya.

Peneliti dari Tropical Marine Science Institut di Singapura Toh Tai Chong mendukung Viacom dan pengembangnya untuk melakukan terlebih dahulu Analisis Dampak Lingkungan (Amdal) sebelum konstruksi

Hal ini dilakukan untuk menilai dampak potensial dari pembangunan.

“Amdal tersebut termasuk adanya pemasukan air tawar dan polutan dari taman langsung ke laut yang dapat mengurangi kualitas air dan berujung pada kematian karang,” tambah Toh.

Proyek Nickelodeon ini juga memperoleh perhatian dari kalangan selebritis dan netizen Filipina. Mereka kemudian menggerakkan tagar “Coron is not Bikini Bottom” di beberapa media sosial yang merujuk pada kartun SpongeBob Squarepants.

Taman hiburan ini adalah proyek kedua di Asia setelah pada tahun lalu Nickelodeon Lost Lagoon resmi dibuka di Malaysia.

Taman bermain dinilai sebagai tren baik di Asia, salah satunya China. Shanghai Disneyland yang resmi dibuka tahun 2016 memperoleh keberhasilan dengan meningkatkan harga proyek residensial di sekitarnya sampai 35 persen.

(kps)