Perumnas mulai pasarkan rumah non subsidi. (Foto: dok.inapex)

JAKARTA, INAPEX.co.id – Agar tak identik sebagai penyedia rumah subsidi bagi masyarakat berpenghasilan rendah (MBR), Perum Perumnas mulai memasarkan hunian kelas menengah.

Selain pasarnya terbuka pengembangan rumah menengah ini diharapkan juga mampu meningkatkan kinerja. Oleh karena itu, selain mendapat tugas sebagai pengembangan rumah untuk MBR yang non provit oriented, Perumnas juga diminta pemerintah untuk membukukan keuntungan.

Kemudian, Perumnas membentuk PT Propernas Griya Utama yang khusus mengembangkan hunian komersial (non subsidi) dan menjalin kerjasama dengan pihak eksternal mengembangkan properti komersial di lahan milik Perumnas maupun di luar Perumnas.

Kendati demikian Perumnas tetap menggarap segmen menengah dengan porsi lebih terbatas. Salah satunya Grand Cilegon Residence di Jl Ketiang, Kota Cilegon, Banten.

Kawasan ini cocok untuk hunian menengah mengingat di dalam kota, dekat dengan perkantoran, sentra bisnis, dan aksesnya sekitar 2 kilometer ke gerbang tol Cilegon Timur.

Grand Cilegon hanya memasarkan dua tipe, yaitu 38/84 dan 54/136 masing-masing seharga Rp295 juta dan Rp536 juta.

Harga tersebut belum termasuk bea balik nama, akta jual beli, dan proses bank apabila dibeli secara kredit. Perumahan ini mulai dipasarkan sejak tiga atau empat tahun lalu. Karena itu sudah cukup banyak rumah yang terbangun dan dihuni.

Sementara itu, secara terpisah progres proyek Perkantoran Citra Towers di Kemayoran, Jakarta Pusat terlihat semakin signifikan.

Direktur PT Ciputra Residence Nararya Ciputra Sastrawinata memastikan kemajuan tahap pembangunan fisik kawasan perkantoran khususnya North Towers, sampai saat ini pekerjaan struktur gedung sudah mencapai 100%.

Apalagi, proyek yang dikembangkan dikawasan perkantoran di Kemayoran tersebut luasnya mencapai 1,8 hektar. Gedung ini terdiri terdiri dua menara perkantoran setinggi 28 lantai dan podium retail yang terbagi menjadi dua zona.

Di tahap awal, proyek ini akan memiliki satu tower seluas 41 ribu meter persegi. “Sebentar lagi selesai pembangunannya. Luasannya sekitar 38 ribu meter persegi dengan total 407 unit ruang perkantoran strata tittle dengan luas per unit 18 sampai 174 meter persegi,” kata Nararya Ciputra Sastrawinata.

Lebih lanjut dikatakan Nararya, harga yang ditawarkan untuk proyek perkantoran itu dibandrol mulai Rp700 jutaan untuk ukuran 18 meter persegi2 yaitu produk inovatif Creative Office (CreO).

Ada juga tipe kantor ukuran 105 meter persegi yang harganya mulai dari Rp3,5 miliar. “Kami membidik pasar kantor korporasi dan pebisnis start up, karena karena kawasan Kemayoran ini kan ada di inner city Jakarta yang saat ini sedang mengalami pertumbuhan hunian vertikal dan komersial,” ujar Nararya Ciputra Sastrawinata.

Akhir November lalu, proyek perkantoran ini meraih penghargaan Best Green Office with Environmentally Retail Podium pada Indonesia Property&Bank Award (IPBA).

Sejumlah pertimbangan yang membuat Citra Towers mendapat penghargaan tersebut yaitu konsep bangunan hijau dan efisiensi penggunaan energi sekitar 42% dari bangunan standar dengan ukuran sama.

Sebelumnya, area perkantoran ini sudah mendapatkan pengakuan sebagai gedung hijau International Finance Corporation (IFC). Ini merupakan proyek pertama di Asia Tenggara yang dianugerahi sertifikat Excellence in Design for Greater Efficiencies (EDGE).

“Untuk itu, kami menargetkan pada Desember 2018 ini seluruh pekerjaan fisik North Towers bisa dirampungkan dan berharap mulai diserahterimakan dan beroperasi pada kuartal pertama tahun depan,” pungkas Nararya Ciputra Sastrawinata.