Ilustrasi. (dok.inapex)
Ilustrasi. (dok.inapex)

JAKARTA, INAPEX.co.id – Tak hanya dipasar hunian komersil, namun rumah subsidi pada tahun 2019 ini, bakal mengalami kenaikan hingga 7,5%. Sebelumnya, harga rumah subsidi yang diperuntukan Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR) ditentukan pemerintah berkisar Rp 130 – 205 juta per unit.

“Kenaikan harga untuk tahun 2019 berkisar 3 – 7,5 %,” jelas Pelaksana tugas harian (Plt) Dirjen Pembiayaan Perumahan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Khalawi AH, di Jakarta, belum lama ini.

Lebih lanjut dikatakan Khalawi, batasan harga rumah MBR tahun 2019 sudah dalam pengajuan kepada menteri keuangan. “Semoga Januari bisa ditetapkan,” ujarnya.

Menurutnya, di tahun 2018 lalu, harga rumah bersubsidi yang terendah berdasarkan Keputusan Menteri PUPR No 552/KPTS/M/2016 adalah Rp 130 juta per unit.

Harga tersebut berlaku untuk Pulau Jawa, kecuali Jabodetabek dan Sumatera kecuali Kepulauan Riau dan Bangka Belitung.

Kemudian, untuk harga tertinggi diberlakukan di Papua dan Papua Barat, yakni Rp 205 juta per unit. Khusus untuk Jabodetabek dibandrol Rp 148,5 juta per unit.

Selanjutnya, kenaikkan harga rumah subsidi untuk MBR menjadi sangat penting diperhatian Real Estat Indonesia (REI).

Ketua Umum REI Soelaeman Soemawinata mengatakan, pihaknya mengusulkan besaran kenaikan harga rumah tapak bersubsidi untuk MBR sebesar 10% dibandingkan tahun 2018.

“Selama ini, rata-rata kenaikan harga rumah subsidi sebesar 5%, kami mengusulkan kali ini sebesar 10%,” ujar Soelaeman Soemawinata disebuah diskusi di Bogor, Jawa Barat, belum lama ini.

Eman menambahkan, usulan kenaikan harga ditetapkan berdasarkan analisis harga yang diperoleh dari semua daerah, kemudian dirangkum menjadi satu harga yang paling ideal.

Kenaikan harga di setiap daerah sangat bervariasi, salah satunya karena biaya transportasi bahan bangunan.

Semakin sulit terjangkau, masih dikatakan Soelaeman Soemawinata, biaya transportasi membesar sehingga harga rumah pun ikut melambung.

Di tengah usulan kenaikan harga rumah, menurut Soelaeman Soemawinata, REI tetap memperhatikan kualitas dan kenyamanan pembeli rumah.

Kenaikan harga dinilai tak dapat dibendung di tengah harga lahan yang terus melambung dan beban transportasi bahan bangunan. “Kami concern pada kualitas hunian yang dibangun,” pungkas Soelaeman Soemawinata.

Sementara itu, untuk kali pertama di tahun 2018, program sejuta rumah mencapai target. Pencapaian itu disampaikan Menteri PUPR Basuki Hadimuljono sejak dicanangkan oleh Presiden RI Joko Widodo pada 2015.

“Capaian Program Satu Juta Rumah dari tahun ke tahun menunjukkan tren yang meningkat dan pada bulan November tahun 2018 ini telah tercapai pembangunan 1.041.323 unit rumah,” ujar Menteri Basuki ketika membuka Pertemuan Bisnis Federasi Real Estat Internasional Tahun 2018 (FIABCI Global Business Summit), di Nusa Dua, Badung, Bali, belum lama ini.

Capaian tersebut dikatakan Menteri Basuki, tidak terlepas dari kontribusi dan peran Pemerintah, pemerintah daerah, perbankan dan para pengembang perumahan.

Untuk itu, Real Estate Indonesia (REI) sebagai salah satu asosiasi pengembang perumahan didorong terus memberikan kontribusi yang signifikan dalam pembangunan hunian berkualitas dengan harga terjangkau bagi MBR.