Ilustrasi peserta pameran IPEX. (Foto: dok.inapex)

MEDAN, INAPEX.co.id – Permintaan properti ditahun depan, diprediksi oleh kalangan pengembang bakal naik 10% dibanding 2018.

“Permintaan yang meningkat diyakini mendorong harga jual lahan dan properti sehingga saatnya pengusaha membangun, sedangkan masyarakat harus siap-siap membeli,” ujar Wakil Ketua Umum Kamar Dagang Indonesia Sumatera Utara Bidang Infrastruktur dan Properti, Tomi Wistan di Medan, belum lama ini.

Tomi seorang pengusaha properti berbagai proyek perumahan di Indonesia tersebut, lebih jauh menilai naiknya permintaan mengacu pada kondisi bisnis properti di 2018 yang sudah membaik setelah sejak 2013 mengalami kelesuan.

Apalagi, keyakinan permintaan meningkat di 2019 itu semakin kuat setelah melihat pertumbuhan ekonomi yang terlihat terus membaik.

“Makanya saya sudah sarankan pengusaha properti membeli lahan dan membangun dan pengusaha sektor lainnya juga memanfatkan momentum itu.Sedangkan konsumen, yah saatnya membeli,” katanya.

Mantan Ketua Realestate Sumut tersebut menyebutkan, dengan permintaan yang naik, maka harga jual diyakini juga akan naik.

“Yang pasti semua terkait harus memanfaatkan momentum kenaikan permintaan properti di 2019 yang juga akan menjadi landasan menuju ke ‘take off-nya’ properti di Indonesia,” ujarnya.

Pada kesempatan acara “Ngopi Bisnis” yang digelar Young Entrepreneurs Council (YEC) INTI Sumut, Tomi memaparkan, kendati di tahun politik atau Pemilihan Presiden dan Pemilihan Legislatif di 2019, diprediksi tidak akan berpengaruh negatif terhadap permintaan properti.

Tomi Wistan mengaku, pada 2019 permintaan yang banyak itu juga tetap untuk rumah menengah ke bawah.

Oleh sebab itu, pemerintah daerah seperti di Sumut diharapkan menjalankan kebijakan pemerintah yang menurunkan Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan (BPHTB) untuk rumah masyarakat berpenghasilan rendah atau MBR.

“Harusnya BPHTB dari lima persen menjadi nol atau 2,5 persen sesuai ketentuan pemerintah itu harus dijalankan,” tambahnya.

Penurunan BPHTB akan sangat membantu masyarakat dalam membeli rumah MBR. Dengan BPHTB nol persen, maka kalau membeli rumah seharga Rp130 juta, pembeli tidak lagi harus membayar sekitar Rp3,5 juta.

Selain itu, penurunan penerimaan BHPT akan mengurangi pendapatan pemerintah. Tetapi dengan terjadinya peningkatan daya beli rumah masyarakat dan akhirnya mendorong kesejahteraan, maka itu lebih menguntungkan pemerintah.

Apalagi dengan semua masyarakat bisa membeli dan memiliki rumah, maka penerimaan PBB dan lainnya juga meningkat.

Ketua YEC, Hasustan Kosim mengungkapkan dialog tentang properti dengan narasumber Tomi Wistan dipastikan bermanfaat bagi pengusaha muda yang tergabung di YEC.

“Dengan pemaparan bertema ‘Property 2019, Akan Bangkitkah?’ itu akan membantu pebisnis muda mencari peluang bisnis yang cocok di 2019,” ujarnya.

Didampingi Sekretaris YEC, Hendy Ong dan Ketua Panitia Andro Hartanto, Hasustan Kosim menyebutkan “pencerahan” kepada anggota dilakukan rutin dengan materi yang berbeda.

“YEC berharap anggota yang rata-rata pengusaha bisa melihat peluang bisnis atau bisa bersinergi untuk merebut peluang bisnis itu,” pungkasnya.