Terkait Politisasi Proyek MRT di Jakarta Terancam Gagal
Pembangunan Mass Rapid Transit (MRT) Fase II (Bundaran Hotel HI-Kampung Bandan) bakal dimulai dan segera terwujud. (Foto: istimewa)

 

JAKARTA, INAPEX.co.id – Tahun 2018 mendatang, Pembangunan Mass Rapid Transit (MRT) Fase II (Bundaran Hotel HI-Kampung Bandan) bakal dimulai dan segera terwujud. Hingga saat ini, mega proyek tersebut masih dalam tahap basic engineering design.

Direktur Utama PT MRT Jakarta, William P Sabandar membenarkan, rencananya MRT Fase II ini akan dibangun disepanjang 8,3 kilometer. Tahapan feasibility study (FS) proyek ini telah selesai dilakukan beberapa waktu lalu. “Kami rencanakan untuk groundbreaking Fase II akan dilakukan tahun depan menyambung dengan Fase I,” ujar William P Sabandar di kawasan Cikini, belum lama ini.

Lebih jauh William menjelaskan, MRT Fase II nantinya memiliki delapan stasiun bawah tanah (underground) yang tersebar di Sarinah, Monas, Harmoni, Sawah Besar, Mangga Besar, Glodok, Kota dan Kampung Bandan.

Kendati demikian, anggaran pembangunan MRT Fase II sendiri dialokasikan sebesar Rp 25,1 triliun. “Kami sudah koordinasi juga dengan pemerintah pusat untuk kelanjutan pembangunan MRT Fase II ini,” tambahnya.

Seperti diketahui, PT MRT Jakarta saat ini sedang membangun MRT Fase I (Lebak Bulus-Bundaran HI). Ditargetkan MRT Fase I yang pembangunannya telah mencapai 74,89 persen tersebut rampung dikerjakan dan beroperasi Maret 2019 mendatang.

Sementara itu, konsep transportasi Mass Rapid Transit (MRT), ternyata mampu melahirkan sejumlah potensi bisnis baru di Jakarta. Pasalnya, PT MRT Jakarta tidak hanya menjadikan bisnis transportasi sebagai misi prioritasnya.

Melalui berkembangnya daerah di sekitar stasiun MRT Jakarta, diprediksi sangat memiliki potensi bisnis baru khususnya disekitar 13 stasiun MRT Jakarta fase pertama sepanjang Lebak Bulus-Bundaran HI.

Kemudian, konsep Transit Oriented Development (TOD), diharapkan konektivitas antar moda transportasi dapat menunjang ekonomi yang lebih besar dengan hadirnya pusat perkantoran, hotel, hingga berbagai jenis hunian murah dan modern dalam satu area.

William P. Sabandar membenarkan, rencana pengembangan TOD dilakukan di dua stasiun MRT, yaitu Stasiun MRT Dukuh Atas dan Stasiun MRT Lebak Bulus.

“Coba kita lihat model di Hong Kong ada integrasi antara kereta dan properti, karena di setiap jalur kereta, setiap ada investasi transportasi terjadi kenaikan ekonomi di kawasan sekitar situ,” ujar William.

Dengan demikian, lanjut William, pengguna MRT Jakarta nantinya lebih nyaman dalam menggunakan moda transportasi modern tersebut dengan adanya hunian dekat stasiun MRT Jakarta. Tak hanya hunian bagi masyarakat mampu, MRT Jakarta juga membuat perencanaan pembangunan hunian murah yang terintegrasi dengan stasiun.

“Di sini bangun office, hotel, bangun rumah murah untuk masyarakat, kemudian residensial. Bukan hanya untuk orang-orang pendapatan ekonomi ke atas, juga rumah murah,” tutur William.

Hingga saat ini, pihaknya akan membuat perencanaan alias masterplan pengembangan TOD di 13 stasiun MRT Jakarta sepanjang Lebak Bulus sampai Bundaran HI. Pengembangan TOD ini nantinya diberikan kepada pihak yang berminat untuk melakukan pengembangan kawasan di sekitar stasiun MRT Jakarta.

Seperti diketahui sebelumnya, rencananya bisnis baru tersebut diantaranya bakal dibangun Apartemen diatas Kantor PT MRT di Lebak Bulus Jakarta Selatan. Untuk mewujudkan itu, pengembang sarana transportasi tersebut bakal menggandeng PT Jakarta Propertindo (Jakpro).

William Sabandar membenarkan, tentang rencananya itu. Bangunan apartemen tersebut dipastikan akan dikembangkan diatas lahan seluas 1.000 meter persegi.

“Jadi tadi disepakati untuk membangun kantor MRT di kawasan Depo Lebak Bulus. Nantinya kantor MRT akan butuh sekitar tujuh lantai. Atasnya nanti bisa dikerjasamakan dan dibisniskan dengan membangun apartemen,” ucap William, usai mengikuti rapat pimpinan (rapim) di Balai Kota DKI Jakarta, beberapa waktu lalu.

William menambahkan, proyek ini ditargetkan rampung pada Maret 2019. Saat ini, pihaknya fokus menyelesaikan pembangunan depo MRT terlebih dahulu.

“Kita berharap konstruksi selesai dulu. Begitu nanti pembangunan depo MRT selesai, kita baru proses pembangunan apartemennya supaya tidak terganggu,” kata William.