mulyadi
Asep Mulyadi merasa cocok lokasi dan rumahnya hingga kemudian mengajukan KPR ke Bank BTN. (Foto: dok.inapex)

 

DEPOK, INAPEX.co.id – Ditengah susahnya beli rumah murah karena keterbatasan lahan, beragam kisah yang dialami oleh masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) untuk bisa mewujudkan impiannya bisa memiliki hunian yang lebih layak.

Kendati demikian, tak sedikit pula kalangan MBR yang berhasil mewujudkan impiannya hingga bisa memiliki rumah murah melalui Kredit Pemilikan Rumah (KPR).

Asep Mulyadi (37), ketika ditemui di rumahnya yang terletak di Perumahan Bojong Gede Residence, Blok F 7, No.5, Jalan Setapak No.67, Desa Cimanggis, Bojong Gede, Bogor, Jawa Barat, Selasa (14/3), terlihat semangat melakukan aktivitas bersih-bersih rumah.

Rumah yang dimiliki melalui KPR Bank Tabungan Negara (BTN) tersebut merupakan hasil kerja kerasnya sebagai karyawan swasta dan sudah ditinggali sejak Desember 2015. Yang jelas, pria campuran asal Kuningan Cirebon – Bogor ini, tidak lagi harus berpindah-pindah ngontrak, apalagi membayar uang sewa rumah yang setiap tahun selalu naik.

“Alhamdulillah mas saya bisa ambil KPR sekarang, kapan lagi? Sebab harga tanah dan rumah, setiap tahun mengalami kenaikan,”ungkap Asep Mulyadi.

Sebelumnya, Mulyadi mengaku kurang lebih dua tahun dirinya mencari rumah. Hingga akhirnya ada yang cocok (lokasi dan rumahnya), ia bersegera mengajukan kredit ke Bank BTN. Soal administrasi, Mulyadi menyampaikan, sebenarnya syaratnya semua standar, seperti foto copy KTP, KK, kartu karyawan, surat keterangan belum memiliki rumah dari RT/RW, surat keterangan karyawan dari kantor tempat kerja.

Dirut BTN, Maryono secara terpisah menjelaskan, program sejuta rumah merupakan program yang dicanangkan pemerintahan Presiden Joko Widodo sejak April 2015 lalu berlandaskan dasar hukum UUD 1945 dan Undang-undang Nomor 1 Tahun 2011 tentang Perumahan dan Kawasan Permukiman.

Oleh sebab itu, untuk dapat merealisasikan Program Sejuta Rumah, pemerintah juga telah mengeluarkan sejumlah kebijakan dibidang pembiayaan perumahan.

Diantaranya, termasuk kebijakan Kredit Pemilikan Rumah Sejahtera Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (KPR Sejahtera FLPP), Subsidi Selisih Bunga (SSB), Subsidi Bantuan Uang Muka (SBUM), Tabungan Perumahan Rakyat (Tapera) dan Program Bantuan Pembiayaan Perumahan Berbasis Tabungan (BP2BT) yang saat ini masih dalam pembahasan.

“Bank BTN menjadi salah satu bank yang diberi mandat menjadi bank pelaksana untuk sejuta rumah,” jelas Maryono.

Dengan demikian, penyaluran KPR Bank BTN terus meningkat karena akses masyarakat terhadap pembiayaan semakin murah. Melalui program sejuta rumah, negara mengalami pertumbuhan ekonomi yang semakin pesat. Apalagi, masih dikatakan Maryono, sektor properti memiliki multiplier effect karena menyerap tenaga kerja yang cukup banyak.

“Untuk rumah subdisi, Bank BTN menyediakan dua jenis rumah, yaitu rumah tapak dan rumah susun. Hingga Desember 2016 mencapai 395.297 unit dengan nilai kredit mencapai 27,4 miliar rupiah. Rinciannya, untuk KPR 159.413 unit, dengan nilai 17,99 miliar rupiah, dan untuk komitmen kredit konstruksi KPR mencapai 235.884 unit dengan nilai 9,4 miliar rupiah.

Sementara untuk non subsidi, hingga Desember 2016 mencapai 200.243 unit dan jumlah kredit 37,02 miliar rupiah. Rinciannya, untuk KPR 49.956 unit dengan nilai 14.31 miliar rupiah. Sedangkan untuk komitmen kredit konstruksi KPR mencapai 150.287 unit dengan nilai 22,7 miliar rupiah,” paparnya.

Kemudian, soal biaya yang dikeluarkan masyarakat untuk bisa memiliki rumah, kata Maryono besarannya tergantung pada jenis rumah, harga rumah, lokasi, dan skema subsidi yang diberikan. Namun secara umum, KPR FLPP masyarakat hanya membayar DP 1 persen dengan bunga kredit 5 persen sepanjang masa angsuran.

“Sepanjang 2006-2014 sebesar 11,8 persen, namun setelah program sejuta rumah dicanangkan, pada 2015-2016 rata-rata pertumbuhan penyaluran KPR 24,39 persen,” pungkasnya.