Ilustrasi. (Foto: dok.inapex)
Ilustrasi. (Foto: dok.inapex)

 

JAKARTA, INAPEX.co.id – Pergerakan struktur tanah yang tidak stabil, dinilai sangat berbahaya terhadap hunian vertikal maupun rumah tapak. Apalagi struktur tanah dilokasi rawan bencana sangat rentan terjadinya pergeseran hingga menyebabkan kondisi bangunan miring atau mengalami retak pada dinding.

Oleh karena itu, plan rencana pembangunan biasanya sudah diatur dalam peraturan daerah (Perda) melalui Izin Mendirikan Bangunan (IMB). Apalagi, jika proyek tak sesuai izin mendirikan bangunan (IMB), petugas Seksi Penataan Kota akan menggempur bangunan tersebut.

“Sesuai IMB yang dimiliki, bangunan tersebut untuk rumah tinggal dengan ketinggian 3 lantai tapi oleh pemiliknya dibangun 4 lantai,” ujar Kepala Seksi Penataan Kota Kecamatan Jagakarsa, Andor Siregar di lokasi pembongkaran.

Menurut Andor, selain melanggar ketinggian, tampak depan bangunan miliaran rupiah itu juga tidak sesuai gambar rencana awal. Sehingga dibongkar secara manual. Meski begitu Andor mengaku, pemilik berkesempatan merubah IMB-nya menjadi bangunan komersil dan menambah ketinggian lantai.

Hal ini sesuai Perda 1 tahun 2014 tentang tata ruang, peruntukan di kawasan itu masuk kategori R9 dan dimungkinkan untuk bangunan komersil sebagai tempat usaha. “Jika merubah IMB, pemilik dikenakan sanksi denda yang disetorkan ke Pemda,” jelasnya.

Sementara itu, World Economic Forum (WEF) telah membuat daftar enam gedung di dunia yang konstruksinya menerapkan inovasi terkait pemenuhan kebutuhan dunia menghadapi tantangan-tantangan industri, sosial, dan populasi.

 

Ilustrasi. (Foto: istimewa)
Ilustrasi. (Foto: istimewa)

 

Bahkan di tahun 2050 nanti, dua per tiga dari populasi global akan tinggal di area perkotaan. Di beberapa pusat-pusat kota besar, bakal banyak kekurangan ruang, lahan dan hunian. Oleh sebab itu, rumah tapak bukanlah sebuah pilihan.

Alih-alih seperti itu, kota-kota membutuhkan hunian vertikal untuk mengakomodasi tempat tinggal masyarakatnya. Untuk itu, ide desain di belakang penciptaan Burj Khalifa di Dubai yang kini populer sebagai destinasi pariwisata adalah pencakar langit modern terpadu dengan hotel, apartemen, dan ruang komersial.

Burj Khalifa menjadi segelintir bangunan multifungsi yang disebut sebagai kota vertikal. Adapun realisasi visi tersebut untuk mengamankan dukungan dari pihak pemerintah, termasuk penguasa Dubai Sheikh Mohammed bin Rashid al Maktoum.

Selain itu, dibentuk kerja sama erat antara semua kontributor, dan penggunaan teknologi pre-fabrikasi untuk kecepatan konstruksi. Hal ini juga pionir dalam penggunaan teknologi inovatif seperti crane yang mempu beroperasi sendiri membuat Burj Khalifa penuh dengan inovasi. Burj Khalifa kini menjadi tempat swafoto paling populer nomor tiga di dunia setelah Menara Eiffel di Paris dan Disney World di Florida, AS.