Sekarang Anda Berpenghasilan Rp.4,5 Juta Bisa Membeli Rumah Subsidi
Rumah Subsidi (Foto: budisusilo85)

 

JAKARTA, INAPEX.co.id – Sekarang Anda berpenghasilan Rp.4,5 Juta bisa membeli rumah subsidi. Pasalnya pemerintah terus berupaya agar golongan Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR) bisa mempunyai memiliki rumah sendiri. Salah satunya dengan cara menaikkan batas penghasilan maksimum.

Pemerintah rencananya akan mengubah aturan terkait kategori Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR) untuk meningkatkan serapan Kredit Pemilikan Rumah (KPR) subsidi.

Direktur Perencanaan Pembiayaan Perumahan Direktorat Jenderal Pembiayaan Perumahan Kementerian PUPR Eko Djoeli Heripoerwanto menuturkan bahwa salah satu yang akan diubah yakni syarat minimum penghasilan memiliki rumah subsidi.

“Jadi kalau MBR bisa jadi, ini contoh saja banyak yang minta MBR angkanya dinaikkan, sekarang Rp.4 juta, diharapkan menjadi lebih. Karena ketentuan PTKP itu sudah Rp.4,5 juta jadi itu akan dinaikan kira-kita seperti itu,” terangnya.

Tidak hanya itu, lanjut Eko, pihaknya juga akan mengubah batas maksimal harga jual rumah subsidi berdasarkan regional daerahnya. Pihaknya akan memberikan harga khusus rumah subsidi kepada daerah-daerah metropolitan, yang mana harganya akan jauh lebih murah dibandingkan daerah lainnya.

“Kemudian region akan diatur kembali, kemungkinan besar ya, nanti metropolitan mendapat harga khusus. Karena selama ini metropolitan yang dapat harga rumah khusus hanya Jabodetabek, sementara metropolitan itu ada banyak seperti Surabaya, Makasar, Denpasar dan seterusnya, jadi itu barang kali supaya lebih fleksibel,” katanya.

Peraturan tersebut diharapkan dapat selesai dan diterapkan sebelum akhir tahun. Kini pembahasan tentang aturan tersebut sedang dalam tahap mematangkan dan uji publik.

“Kita sedang godok matangkan, kita uji publik, kita berharap tahun ini bisa keluar. Tapi kita belum bisa mendahului itu,” jelasnya.

Terlepas dari itu, pada kesempatan berbeda, Hermawan Kartajaya yang merupakan pakar marketing, pendiri, sekaligus CEO MarkPlus bicara tentang konsep marketing khususnya untuk bisnis properti. Menurut pria kelahiran Surabaya, 18 November 1947, ini marketing yang baik mesti didasarkan pada tiga hal: product managementcustomer management, dan brand management.

“Tiga hal ini harus bisa dirumuskan dengan baik sebelum mengeluarkan sales forces management guna meraih pasar yang besar. Summarecon bisa dijadikan contoh. Bisa sukses berjualan dengan mengusung brand yang sangat kuat. Sekarang orang menyebut Kelapa Gading (di Jakarta Utara) atau Serpong (di Tangerang, Banten) dengan Summarecon,” jelasnya di Jakarta belum lama ini.

Brand yang kuat diciptakan dengan kreatifitas, ide-ide dan eksekusi. Semuanya harus menghasilkan nilai tambah dari sekadar menawarkan produk, dan dipelihara. Produk yang dilepas ke pasar tidak hanya sesuatu yang memuaskan (satisfaction).

Sebuah produk mesti cocok dalam arti sesuai dengan segmennya, di-delivery tepat waktu, diiringi pelayanan yang prima. Kalau itu sudah dapat dicapai, orang tak lagi sekedar melakukan pembelian berulang (repeat order), namun menjadi konsumen loyal dan dapat menyarankan kepada yang lain untuk membeli (advocate).

“Konsep product satisfaction itu sudah berlalu, its gone. Sekarang juga harus ada experience-nya. Jadi, konsumen bisa bilang wow! dengan produk kita. Yang tidak bisa beli pun akan bilang, kalau saya punya uang saya akan beli rumah ini karena bagus dan lokasinya oke. Jadi advocate dan perlakukan konsumen bukan lagi raja tapi teman. Sebagai teman ada honest, sehingga dia merasa tidak dibohongi oleh teman sendiri,” tutupnya.