Segera Beli, Mumpung Harga Rumah Dekat LRT Masih Murah
Hunian Dekat LRT (Foto: surrey)

 

JAKARTA, INAPEX.co.id – PT Adhi Karya (Persero) Tbk tengah melakukan pembangunan proyek transportasi light rail transit (LRT) yang diintegrasikan dengan stasiun LRT menyusung konsep transit oriented development (TOD).

Tahun 2017 ini dikembangkan enam proyek properti yang disebut LRT City. Properti yang dibangun meliputi area komersial dan apartemen, mal, perkantoran, dan hotel untuk proyek yang skalanya tergolong luas.

Untuk pengembangan LRT City, Adhi Karya menggandeng Bank Mandiri untuk mendorong pembiayaan proyek dan KPA (kredit pemilikan apartemen) kepada konsumen. Kerja sama ini sementara untuk dua proyek, yakni di Royal Sentul Bogor dan Eastern Green Bekasi.

“Kerja sama ini merupakan bagian dari sinergitas BUMN. Nanti setelah dua proyek ini akan dilanjutkan dengan kerja sama untuk Gateway Park di Jati Cempaka yang akan segera diluncurkan,” tutur Kepala Divisi TOD I Adhi Karya, Djoko Santoso, saat penandatanganan kerja sama dengan Bank Mandiri di Jakarta, beberapa waktu lalu.

Adhi Karya telah memasarkan dua tower Eastern Green Bekasi sekitar 632 unit dan penjualannya sudah 200 unit. Adapun Royal Sentul Park pada tahap I dikembangkan di area 2,5 hektar meliputi 1.637 unit. Apartemen dibanderol mulai Rp.500 jutaan itu telah terpesan 170 unit.

Adapun Gateway Park seluas 5,2 hektar terdiri 5 tower apartemen meliputi 3.744 unit dengan konsep resort dan sarana lainnya. Harganya mulai Rp.300 jutaan.

Atmo Prawiro Hutauruk, Vice President Bank Mandiri menuturkan bahwa pihaknya akan memberikan bunga ringan kepada konsumen. “Bunganya mulai 5,99 persen untuk 2 tahun pertama dan 6,75 persen untuk 2 tahun selanjutnya,” imbuhnya.

Terlepas dari itu, pada kesempatan berbeda, Pemerintah kabupaten dan kota di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) dihimbau untuk membantu menyubsidi pajak Biaya Perolehan Atas Hak Tanah dan Bangunan (BPHTB) untuk rumah murah, terutama bagi Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR).

Ketua Dewan Pengurus Daerah (DPD) Real Estat Indonesia (REI), NTT Bobby Pitoby memaparkan bahwa dengan biaya BPHTB yang tinggi, membuat masyarakat berekonomi lemah sangat kesulitan untuk mempunyai rumah.

“Kami minta dukungan dari pemerintah daerah (pemda) untuk masyarakatnya. Kami tidak minta apa-apa dari pemda. Kami hanya minta pemda membantu menyubsidi BPHTB, sehingga MBR tidak perlu lagi membayar biaya BPHTB karena itu sangat memberatkan,” ucap Bobby kepada pers, baru-baru ini.

Hal ini sangat tidak masuk akal, lanjut Bobby, jika untuk memperoleh rumah murah dengan uang muka cuma Rp.1,5 juta, sedangkan pajak BPHTB lebih besar senilai Rp.4 juta.

“Kami pengembang sudah dibantu oleh pemerintah pusat karena pajaknya sudah diturunkan dari 5 persen menjadi 2,5 persen, bahkan 1 persen. Tapi kok MBR belum dibantu oleh pemdanya. Ini tentu masih menjadi kendala,” jelas Bobby.