Rumah Seharga Rp.90,4 Juta, Sukses Dibangun
Rumah Seharga Rp.90,4 Juta (Foto: archdaily)

 

KOLOMBIA, INAPEX.co.id, – Tak hanya ramah lingkungan, rumah ini juga ramah kantong yang sukses dibangun. Biaya untuk membangun rumah seluas 40 meter persegi hanya Rp.90,4 juta.

Di dalamnya sudah tersedia ruang tamu, dua kamar tidur, ruang makan, kamar mandi dan dapur. Seluruh bangunan ini dikerjakan dalam kurun waktu lima hari dengan tenaga empat orang.

Dalam perkembangannya, perusahaan kecil dengan karyawan kurang dari 15 orang ini memperoleh kesempatan untuk membangun seperangkat tempat penampungan di Guapi, kawasan barat Kolombia, untuk 42 keluarga yang mengungsi akibat konflik bersenjata.

Selain itu, tata letak atap yang bisa diatur ventilasi dan pencahayaannya, memungkinkan penyesuaian terhadap kondisi iklim yang sangat panas.

Proyek yang dibangun ini juga lengkap dengan instalasi listrik, toilet, dan tiga dapur umum untuk keluarga yang mengungsi.

Kira-kira sepuluh tahun silam, saat Fernando Silo, pria asal Kolombia, mencoba membangun rumahnya sendiri di Cundinamarca, menyadari bahwa untuk memindahkan bahan bangunan dari Bogota sangat susah.

Setelah berpikir, ia memutuskan untuk membangun rumahnya memakai bahan yang terbuat dari plastik.

Percobaan demi percobaan dilakukan dengan banyak kesalahan yang dialami, sampai akhirnya ia menemui Óscar Méndez, arsitek yang mengembangkan tesisnya dengan topik yang serupa.

Bersama-sama, mereka akhirnya mendirikan perusahaan Conceptos Plásticos pada tahun 2011.

Perusahaan lokal yang inovatif tersebut selanjutnya mematenkan skema bata dan pilar yang terbuat dari plastik daur ulang.

Jika digabungkan mirip potongan lego dalam sistem konstruksi, maka mampu membangun rumah setinggi dua lantai dalam kurun waktu lima hari.

Alih-alih plastik baru, mereka lebih memilih plastik bekas yang didaur ulang, mengingat waktu yang diperlukan agar plastik dapat terdegradasi mencapai 300 tahun.

“Bekerja dengan plastik baru itu sederhana,” ucap Óscar Méndez kepada surat kabar Kolombia El Tiempo yang dikutip dari www.archdaily.com.

“Karena ada parameter yang ditentukan, namun yang digunakan (plastik) memerlukan lebih banyak eksperimen,” lanjutnya.

Bahan dasar yang dipakai untuk membuat bata dan pilar didapatkan dari plastik bekas yang banyak dibuang pabrik setiap harinya.

Dengan memakai proses ekstrusi, plastik dilelehkan dan dikosongkan ke dalam cetakan akhir, untuk membuat batu bata seberat tiga kilogram yang menyerupai tanah liat dengan dimensi yang sama.

Saat dirakit di bawah tekanan, batu bata mengisolasi panas dan mempunyai aditif yang menghambat pembakaran.

Batu bata tersebut tahan terhadap thermoacoustic dan tahan menghadapi gempa dengan tingkat skala yang berlaku di Kolombia.