Rumah Janda Miskin Hancur, Malah Tak Dapat Bantuan Dari Kepala Kampung
Janda Miskin (Foto: acehterkini)

 

JAKARTA, INAPEX.co.id, – Korban gempa, janda miskin dua anak, Rosniah (47) tak masuk pendataan padahal rumahnya sudah rata dengan tanah atau hancur.

Warga Gampong Dayah Kulam Beuracan, Kecamatan Meureudu, Pidie Jaya pun mempertanyakan bantuan rumah Hunian Sementara (huntara) kepada pihak kecamatan setempat.

Ketua pemuda Gampong Dayah Kulam Beuracan, Meureudu, Al-Bahri M Isa (27) kepada pers, Senin (30/1) menuturkan bahwa menurut hasil pendataan tingkat gampong hanya merekomendasi lima warga korban gempa yang memperoleh bantuan rumah Huntara diantaranya, Baren, Syaribani, Banteh, TM Husien dan Ridwan.

“Sementara rumah Rosniah selaku korban gempa dengan kondisi riil rumahnya telah rata dengan tanah, justru luput dari pendataan penerima bantuan rumah huntara,” ‎imbuhnya.

Dalam jangka waktu satu pekan kejadian, rumah janda miskin Rosniah sudah dibersihkan oleh aparat TNI.

Dengan sendirinya, beliau dengan kedua anaknya saat ini terpaksa tinggal di bawah tenda darurat dengan berbagai keterbatasan.

Atas ketimpangan tersebut, pihaknya sudah mengadukan kepada kepala kampung, Fauzi Keumangan dan selaku pihak kepala kampung pun juga menyampaikan kepada kecamatan.

Akan tetapi, pihak kecamatan berjanji langsung menurunkan tim verifikasi sejak tiga minggu lalu. Anehnya, sampai hari ini belum kunjung didatangkan tim verifiksi kecamatan.

Oleh sebab itu, bagian dari perangkat gampong meminta supaya camat Meureudu, Jailani SE MM untuk me‎masukkan dalam data penerima bantuan rumah huntara dan menjadi penerima rumah permanen pada masa rehabilitasi dan rekontruksi.

Selain itu, sejak hari pertama hingga sekarang, suplai air bersih bagi masyarakat Pidie Jaya termasuk para korban ditangani Palang Merah Indonesia (PMI) setempat.

Pendistribusian dikerjakan dengan memakai jasa 11 unit mobil tangki, 10 unit diantaranya bantuan dari Sumatera Barat (Sumbar) serta dari Sumatera Utara (Sumut).

Upaya tersebut dijalankan sebab suplai air dari beberapa Perusahaan Air Minum Ibukota Kecamatan (PAM-IKK) mengalami kerusakan berat setelah gempa bumi dan sekarang masih menuai masalah besar.

Ketua PMI Pijay, Fakhruzzaman Hasballah SH mengaku bahwa saat mengetahui seluruh jaringan atau pipa PDAM mengalami kerusakan dan suplai air lumpuh total, pihaknya segera mengupayakan supaya persoalan yang cukup penting harus langsung tuntas.

Dengan memakai 11 unit mobil tangki air disedot dari Krueng Jeulanga Mata Ie-Ulee Gle Kecamatan Bandardua dan setiap hari setiap mobil mengangkut tiga trip atau 15.000 liter (3 mobil x 5.000 liter/mobil), total yang disuplai per-hari sebanyak 165.000 liter.

Jika di tanya kapan suplai air berakhir, Ketua PMI Pijay mengatakan, tak dapat dipastikan. Yang jelas suplai air akan terus berlanjut sampai beberapa bulan mendatang atau tergantung kapan PDAM Krueng Meureudu kembali berfungsi.

(tn)