Masih Bingung Syarat Beli Rumah Subsidi? Pahami Cara Mudahnya di sini
Ilustrasi (Foto: dok.inapex)

JAKARTA, INAPEX.co.id – Ditengah pergantian tahun politik 2019, rumah dengan harga dibawah Rp.400 Juta ternyata masih menjadi potensi pasar properti yang sangat menarik bagi masyarakat berpenghasilan rendah (MBR).

Potensi pasar properti tersebut diprediksikan oleh Pengamat Properti Indonesia Toerangga Putra, menanggapi proyeksi pasar.

Menurutnya, diawal tahun 2019 merupakan tahun politik dan dekat dengan momen Hari Raya Idul Fitri masih bisa berharap dampak positif dari momen tersebut, walaupun tidak secara langsung. “Harapannya dampak itu bisa dirasakan secara nasional,” ujar Toerangga Putra.

Kemudian untuk perumahan subsidi, masih dikatakan Toerangga, hampir dapat diproyeksi bakal tetap stabil serta berlanjut trend positif.

Selanjutnya, untuk hunian komersil yang tercluster pada segmen harga pasar penjualan rumah tapak terus prospektif.

Menurut Toerangga, penjualannya yakni harga jual dibawah Rp 400 jutaan untuk rumah satu lantai, dan diharga Rp 900 jutaan untuk rumah dua lantai.

“Untuk harga rumah diatas harga itu maka penjualanya untuk semester awal 2019 akan sedikit sulit,” jelasnya.

Toerangga menilai, adanya stabilitas dan keputusan politik akan sangat mempengaruhi lajunya pasar properti di awal sampai pertengahan tahun.

“Adanya issue tentang akan turunnya harga Bahan Bakar Minyak (BBM) pada awal tahun, tentu saja menjadi menarik ditunggu oleh pelaku usaha properti,” tambah Toerangga.

Selain itu, harga sejumlah material bangunan diharapkan juga ikut turun hingga mampu menekan nilai pokok produksi yang bisa merubah turunnya harga jual.

“Imbasnya nanti bisa ke harga jual perdana dengan memberikan diskon maupun melalui gymic. Faktor lain yang bisa membantu menggeliatnya properti yaitu melalui kelonggaran dalam Loan to Value (LTV) atau apapun yang nantinya diberikan oleh pihak perbankan,” jelas Toerangga.

Selanjutnya, untuk properti pada segmen lain seperti ruko, gudang, dan residensial berupa apartment, pada segmen bangunan komersil/business tetap akan bergerak di lokasi pinggiran kota. Langkah itu dilakukan agar nilai jual bisa ditekan.

Diharapkan nanti para pemilik tanah bisa bersinergi membangun kawasan kota mandiri di pinggiran agar bisa memperoleh nilai yang saling menguntungkan.

“Pengembang bisa terbantu dari sisi cashflow dengan tidak investasi tanah diawal, sedangkan pemilik tanah berharap dengan adanya pembangunan nilai tanah sekitarnya akan ikut naik,” ujarnya.