Menteri PUPR Basuki Hadimuljono ketika menerima audensi dengan pengurus DPP REI. (Foto; perumahan)

JAKARTA, INAPEX.co.id – Dibanding tahun sebelumnya, DPP Real Estat Indonesia (REI) menilai prospek bisnis properti diyakini lebih cerah.

Sebelumnya, bisnis properti mengalami kemunduran sejak 2014 sampai 2017. Saat itu, penjualan tergolong tajam hingga mencapai 30%.

Apalagi, di awal 2018, para pengembang menata ulang strategi pengembangan yang harus dilakukan.

“Nah di akhir 2018 kelihatannya ada peningkatan investasi hampir 16% di sana. Itu berarti 2019 ini beberapa pengembang mencoba untuk melangkah ke arah yang positif. Kita tentu dengan kerja keras kita harus optimistis di 2019 ini bisa mencapai pertumbuhan yang positif,” ujar Ketua Umum DPP Real Estat Indonesia (REI) Soelaeman Soemawinata, di Jakarta, belum lama ini.

Dari sisi target, masih dikatakan pemilik panggilan Eman ini, bahwa disepanjang 2018, terbangun hampir 180 ribu unit rumah non-MBR. Tahun ini, targetnya menjadi 200 ribu.

“Karena investasi di properti rumah non-MBR itu bukan hanya rumah. Jadi ada commercial office, pariwisata, ada industri, dan lain-lain, Mudah-mudahan di luar perumahan pun lebih baik,” jelasnya.

Lantas, apakah pemilihan umum 2019 memberikan pengaruh terhadap bisnis properti? Eman memberikan penjelasan.

Menurutnya, pengembang tidak menyinggung masalah pilpres dalam konteks penjualan. “Saya tidak tahu pengaruh apa enggak. Cuma dari 15 pengembang yang saya temui tidak ada satupun yang bicara ini menjadi sebuah hambatan dari strategi mereka,” ujar Eman.

“Kalau itu sudah menjadi hambatan pasti di awal tahun ini mereka tidak akan mempersiapkan apa apa kan tapi mereka sudah persiapkan,” pungkasnya.

Sementara itu, dalam ajang pameran Indonesia Properti Expo (IPEX) yang berlangsung pada Februari 2019 berhasil mencetak Kredit Pemilikan Rumah (KPR) baru senilai Rp.8,5 Triliun.

PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk. (BTN) merilis pencapaian transaksi naik hingga 41,66% dari yang ditargetkan pada penyaluran KPR atau KPA hingga Rp.6 Triliun. Pencapaian itu sekaligus membantah pertumbuhan ekonomi yang diramalkan stagnan pada tahun ini.

“Sehingga, banyak yang membelinya [properti] untuk dijadikan tempat tinggal dan investasi,” ujar Direktur Konsumer BTN Budi Satria.

Lebih lanjut dikatakan Budi, secara komposisi penyaluran KPR non-subsidi mendominasi pengajuan KPR pada IPEX sebesar 80% atau senilai Rp6,8 triliun. Adapun, selebihnya ditopang oleh KPR dengan akad syariah senilai Rp1,1 triliun dan KPR subsidi di posisi Rp706 miliar.