Presiden Jokowi didampingi Seskab dan Menlu bertemu dengan Pangeran Mohammed bin Salman, di Hotel Dahua Boutique, Hangzhou. (Foto: Setkab)
Presiden Jokowi didampingi Seskab dan Menlu bertemu dengan Pangeran Mohammed bin Salman, di Hotel Dahua Boutique, Hangzhou. (Foto: Setkab)

 

JAKARTA, INAPEX.co.id, – Tak hanya makin erat hubungan dibidang politik, namun rencana kunjungan Raja Arab Saudi Salman bin Abdul Aziz ke Indonesia juga dikarenakan kepincut ingin investasi homestay di kawasan wisata.

Salah satu yang menarik perhatian Raja Salman yaitu investasi di bidang properti yang belum tergarap secara maksimal, seperti rumah murah, termasuk homestay, desa wisata untuk menunjang pariwisata.

“Jadi di visi 2030 itu tujuannya untuk era Saudi setelah minyak. Di situ Pemerintah Saudi mencoba mengalihkan sumber pemasukannya tidak hanya dari minyak. Presiden Jokowi sudah bertemu dengan Putra Mahkota, Mohammed bin Salman, membahas soal pariwisata dan rumah murah. Juga ada wacana membangun homestay untuk pariwisata,” kata Kepala Divisi Media Kedutaan Besar Arab Saudi di Indonesia Ahmad Suryana, baru-baru ini.

Lebih lanjut dikatakan Ahmad, dari 1.500 delegasi yang turut serta akan terbagi-bagi ke beberapa bidang tertentu. Diantaranya termasuk, akan delegasi khusus yang menangani bidang investasi pariwisata. “Tapi yang pasti, di antara delegasi itu bakal ada (perusahaan-perusahaan) yang ikut untuk menindaklanjuti pembahasan di G20 di China kemarin. Termasuk minat Arab Saudi berinvestasi bidang pariwisata,” tambah Ahmad.

Niatan membangun homestay tadi rupanya nyambung dengan program prioritas Kemenpar di 2017. Selain konektivitas udara dan Go Digital, yaitu membangun homestay desa wisata. Terutama di destinasi wisata, triwulan I tahun 2017 ini sudah ditargetkan ribuan homestay terbangun. Targetnya, 100.000 homestay hingga 2019.

Sudah ada 10 destinasi prioritas yang akan diprioritaskan, tapi daerah lain yang punya potensi dan membutuhkan homestay juga akan dapat akses. “Pada triwulan pertama tahun 2017, targetnya sudah terbangun 10.000 Homestay Desa Wisata, minimal di 10 top destinasi,” ujar Pokja Percepatan 10 Destinasi Prioritas Kemenpar, Hiramsyah S Thaib.

Selain ke-10 Bali Baru itu antara lain Danau Toba (Sumut), Tanjung Kelayang (Belitung), Tanjung Lesung (Banten), Kep Seribu Dan Kota Tua (Jakarta), Borobudur (Joglosemar), Bromo Tengger Semeru (Jawa Timur), Mandalika (Lombok NTB), Labuan Bajo (NTB), Wakatobi (Sultra) dan Morotai (Maltara).

“Itulah quickwin homestay desa wisata yang menjadi salah satu factor penting dalam pengembangan destinasi pariwisata. Jika 10.000 homestay itu dipecah di 10 Bali Baru itu, maka satu titik kebagian 1.000 unit,” kata Hiram.

Menurutnya, calon investor Arab Saudi, homestay di wilayah NTB sangat cocok. Di kawasan wisata tersebut, terdapat dua destinasi yang sangat oke buntuk pengembangan homestay. Pertama, Mandalika satunya lagi Desa Sembalun yang baru saja memenangkan gelar best destination honeymoon di World Halal Tourism Award 2016 di Abu Dhabi, UEA.

“Di wilayah sini budaya Timur Tengah sudah tidak asing lagi, bahkan sudah familiar. Para investor dari Arab Saudi juga bisa memasukkan unsur-unsur budaya Arab yang dipadukan dengan Nusantara untuk ornamen atau bisnis kulinernya,” papar Hiram.

Skema pendanaan pembangunan homestay dilakukan dengan cara menjalankan program Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (Kemenpupera) melalui mekanisme Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya (BSPS), Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP), dan rumah khusus (G2G).

”Ini dilakukan bekerjasama dengan perbankan dan BUMN lainnya. Ruh-nya tetap melalui kelompok masyarakat, pelaku usaha atau koperasi dan BUMD,” pungkas Hiram.