PUPR Targetkan Rumah Murah 2017, Meningkat 263.056 Unit
Pembangunan Rumah Murah (Foto: tribun)

JAKARTA, INAPEX.co.id, – Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) sudah membagi Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran (DIPA) dari APBN 2017 untuk beberapa sektor.

Kementerian PUPR menargetkan bisa membangun 263.056 unit rumah. Jumlah tersebut lebih besar daripada target tahun lalu sekitar 113.442 unit.

Rincian pembangunan rumah 2017 ialah 13.523 unit rumah susun (rusun) untuk masyarakat berpenghasilan rendah (MBR), 5.803 unit rumah khusus (rusus), dan 110.000 unit rumah swadaya.

“Di antaranya untuk penyelesaian Rusun Perkampungan Atlet di Kemayoran dan penyelesaian Rusun untuk MBR di Pasar Minggu, Pasar Rumput dan Pondok Kelapa,” tutur Menteri PUPR Basuki Hadimuljono, baru-baru ini.

Di 14.000 unit rumah MBR juga akan dilengkapi prasarana, sarana, dan utilitas (PSU)  dan akan menyalurkan Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP) sebanyak 120.000 unit rumah selama 2017 ini.

Sebelumnya, anggaran ini telah disepakati bersama dengan Komisi V DPR RI, Kementerian PUPR memperoleh 4,88 persen dari jumlah belanja negara yaitu senilai Rp.101,496 triliun untuk anggaran sepanjang 2017.

Ada empat bidang prioritas yang akan dilakukan oleh Kementerian PUPR, yaitu bidang ketahanan air atau pangan, perumahan, konektivitas, dan permukiman.

Di bidang perumahan dalam pelaksanaan Program Nasional Pembangunan Sejuta Rumah, Kementerian PUPR mengalokasikan anggaran sebanyak 8,39 persen dengan rincian bagi Direktorat Jenderal (Ditjen) Penyediaan Perumahan 8,16 persen dan Ditjen Pembiayaan Perumahan 0,23 persen.

Jika dikonversikan ke banyaknya dana yang diperoleh maka Ditjen Penyediaan Perumahan memperoleh alokasi sebanyak Rp.8 triliun, sedangkan Ditjen Pembiayaan Perumahan Rp.240 miliar.

Selain itu, pemerintah akan mendukung pengembang untuk memakai skema modular untuk merealisasikan Program Nasional Pembangunan Sejuta Rumah.

Sistem modular bagi rumah masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) diyakini bisa lebih cepat dan lebih murah daripada cara konvensional.

“Modular ini semacam paten. Misalnya harus dipasang dengan pasangan batu, dindingnya terpasang, precast sebagai salah satu materialnya. Jadi sudah terpasang semua, sekali beli langsung terpasang semua komponen rumahnya,” papar Direktur Jenderal Penyediaan Perumahan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Syarif Burhanuddin, di Jakarta.

Harga rumahnya bervariasi, mulai dari Rp.40 juta, Rp.70 juta, sampai Rp.150 juta. Meski murah dan cepat, sistem modular tersebut tak dapat begitu saja dipakai untuk pembangunan rumah, sebab mesti memenuhi Standar Nasional Indonesia (SNI) terlebih dahulu.

“Ini tetap harus diuji daya tahannya, bukan dari aspek harganya saja karena rumah itu fungsinya harus bisa menjaga keamanan penghuninya. Modular ini macam-macam tapi prinsipnya lebih murah dari konvensional,” kata Syarif.

(kps)