Lokasi yang akan dibangun Apartemen berkonsep TOD di Stasiun Juanda. (Foto: PPRO)

JAKARTA, INAPEX.co.id – Dalam waktu dekat ini, proyek hunian transit oriented development (TOD) di Stasiun Juanda akan segera digarap PT PP Properti Tbk. Hingga saat ini, proses perizinan sudah masuk pada tahap Izin Prinsip Pemanfaatan Ruang (IPPR) serta bakal dimulai pondasi dibulan Juli 2019 mendatang.

Kendati sudah dilakukan prosesi groundbreaking di lahan seluas 1 hektar pada Oktober 2017 silam, PT PP Properti tetap menunggu proses pembangunan hingga proses perizinan dari Tim Ahli Bangunan Gedung (TABG) dan penyelesaian Izin Membangun Bangunan (IMB).

“Untuk TOD di Juanda kini sudah sampai di tahap perizinan IPPR, selanjutnya TABG dan IMB kemudian baru memulai untuk running pembangunan,” ujar Direktur keuangan PT PP Properti Indaryanto, di Jakarta, belum lama ini.

Lebih lanjut dikatakan Indaryanto, pembangunan dicanangkan akan dimulai pada Juni 2019 dan diharapkan bisa rampung 2021 dengan membangun dua tower.

Perusahaan dengan kode emiten PPRO tersebut akan membangun hunian yang terdiri atas rusunami yang diperuntukkan masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) dan hunian bersegmentasi menengah anami untuk penjualan komersial.

TOD Stasiun Juanda dibangun diatas lahan milik PT KAI seluas 1 hektare terdiri atas dua menara apartemen dengan total 627 unit dan satu menara perkantoran. Total investasi proyek tersebut sebanyak Rp300 miliar.

Terlepas itu, secara terpisah kendati pendapatan berulang naik 8,06% menjadi Rp 178,61 miliar sejak tahun 2017 sebesar Rp 165,29 miliar, namun PT PP Properti (PPRO) tetap optimis penjualan terus meningkat di Tahun 2019.

Kenaikan pendapatan properti ana usaha PT PP Tbk itu terdorong oleh pendapatan service charge yang juga meningkat 176% menjadi Rp 52,82 miliar.

Kenati demikian, pendapatan hotel justru turun 13,70% menjadi Rp 116,56 miliar dan pendapatan sewa turun 17,09% menjadi Rp 9,22 miliar.

Tapi penurunan beban pokok penjualan menyebabkan laba kotor dan margin laba kotor PPRO naik. Pada tahun 2018, beban pokok penjualan PPRO turun 8,04% menjadi Rp 1,89 miliar.

PPRO mencatatkan margin laba kotor 25,92% di tahun lalu. Margin laba kotor ini naik dari tahun sebelumnya yang sebesar 23,98%.

Alhasil, PPRO mencetak kenaikan laba 5,98% menjadi Rp 471,26 miliar di tahun lalu dari sebelumnya Rp 444,68 miliar. Capaian tersebut tak lepas dari upaya emiten itu dalam mendorong pertumbuhan marketing sales di tantangan lesunya permintaan di sektor properti.