Properti Palembang Menanjak Berkat LRT
LRT Palembang (Foto: suaranusantara)

 

JAKARTA, INAPEX.co.id, – Penyelenggaraan Asian Games 2018 ikut andil mendongkrak bisnis properti di Palembang, Sumatera Selatan. Sejumlah proyek infrastruktur yang dibangun untuk mendukung acara ini khususnya light rail transit (LRT) meningkatkan harga tanah hingga Rp.1,6 juta/m2.

 Berdasarkan blue print jalur LRT Palembang akan membentang sejauh 23 km menghubungkan Bandara Mahmud Badaruddin, Masjid Agung Palembang, serta Jakabaring Sport City.

LRT akan melalui Sungai Musi, Jembatan Ampera, serta menghubungkan 13 stasiun dan sub stasiun dari bandara ke hulu Palembang.

Menurut Marketing Director Royal Resort Residence Palembang (Terrakon Property), Nata Susanto, meski bisnis properti masih slow down, namun Palembang memiliki potensi besar.

 

“Palembang terus berkembang menjadi kota maju. Investasi ke kota ini tahun 2016 sebesar Rp.80 triliun, 80 persennya masuk di kawasan hulu Palembang yaitu di area Jakabaring,” jelasnya saat media gathering di Jakarta, Selasa (14/3).

 

Oleh sebab itu, Terrakon Property optimis terhadap proyek yang dikembangkan. Royal Resort Residence adalah proyek perumahan seluas 4 hektar berlokasi dekat dari Stasiun LRT Jakabaring, hanya 500 meter.

Ada dua tipe yang dipasarkan 38/84 senilai Rp.415 juta dan 48/98 Rp.499 juta. Selanjutnya akan dikembangkan rumah 2 lantai tipe 88/118 dan 108/136 m2 dibandrol Rp.1 miliaran.

Pengembangannya targetnya selesai dalam waktu tiga tahun. Tahap awal akan dikembangkan sekitar 250 unit rumah meliputi 11 blok. Empat blok akan diserahterimakan Desember 2017, disusul 2 blok akan selesai Juni 2018, dan selebihnya diserahkan Juni 2019.

Jumlah investasi proyek tersebut hingga Rp.80 miliar. Nata mengatakan bila proyek LRT rampung kawasan Jakabaring sangat prospektif.

“Sejak dipasarkan Oktober 2016 saat ini sudah terjual 60 unit dengan kenaikan harga mencapai 15 persen. Lokasi proyek kami juga dekat dengan jalan tol Palembang-Inderalaya (Palindra),” tuturnya.

Terlepas dari itu, pada kesempatan berbeda, TOD mengkoordinir berbagai fungsi dalam pengembangan kawasan permukiman. Di dalam kawasan pun memiliki banyak fungsi dan tata ruang campuran, meliputi zona bisnis, fasilitas umum, perkantoran, dan fasilitas sosial yang dihubungkan dengan transportasi umum.

Orang bisa menjalankan aktifitas dan memenuhi kebutuhannya dalam kawasan tanpa harus pergi ke kawasan lain. Konsep tersebut akan meminimalisir jumlah perjalanan dan menekan mobilitas dengan kendaraan pribadi.

Konsep ini diadopsi dari Amerika Serikat (AS) yang sudah dilakukan pada era 1960-an. Ini respon terhadap American Dream, yakni orang tinggal di pinggiran kota dalam rumah besar dan ke mana-mana naik mobil.