Disepanjang 21 Kilometer Jalan Tol, Lebaran Bisa Dilewati
Presiden Joko Widodo. (Foto: istimewa)

 

BOGOR, INAPEX.co.id – Progres proyek jalan Tol Bogor-Ciawi-Sukabumi (Bocimi) dinilai sangat baik. Penilaian itu dilontarkan Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) disela-sela pembagian sembako, dilanjut dirinya meninjau pembangunan tol Bocimi, di Seksi I Ciawi-Cigombong, Cigombong, Kabupaten Bogor, belum lama ini.

Presiden Jokowi menambahkan, setelah setahun sejak peninjauan tahun lalu, perkembangan pembangunan ruas tol Bocimi progresnya sangat baik.

“Dari total 54 km tol Bocimi ini, ini yang di seksi I sepanjang 15 kilometer progresnya tidak ada masalah, pembebasan (tanah) sudah beres semua, konstruksi juga terus, tidak ada masalah,” kata Presiden.
Lebih lanjut dikatkan Presiden, pembangunan tol Bocimi berikutnya akan masuk kepada seksi berikutnya, seksi II, III, dan IV.

“Saya kira di sini progresnya bagus,” ujar Presiden saat menjawab pertanyaan wartawan usai Peninjauan Ruas Tol Bocimi Seksi I Ciawi-Cigombong, Cigombong, Kabupaten Bogor.

Saat ditanya apakah target penyelesaian pembangunan tol Bocimi itu targetnya molor, Presiden menegaskan tidak ada molor. “Enggak, enggak ada molor. Tidak ada molor. Tidak ada,” tegasnya.

Menurut Presiden, pihaknya akan menyelesaikan dulu Seksi I, setelah itu baru mulai pengadaan tanah seksi II, pengukuran (tanah), nanti masuk ke pembebasan lahan.

“Tahun ini. Ini kita kebut-kebutan terus. Kita harus ngerti, ini sudah 1997 dimulai, sudah sejak 1997 ini dimulai,” tegas Presiden Jokowi.

Yang paling penting, lanjut Presiden, dirinya mengecek lapangan tidak ada masalah, itu saja. “Selalu kalau di lapangan yang saya tanyakan kepada manajer yang ada di lapangan apa masalahnya apa. (Dijawab) Enggak ada, berarti sudah sesuai dengan progres yang ada,” ujarnya.

Presiden menilai pembangunan Tol Bocimi sangat diperlukan sekali karena kemacetan yang dari Bogor-Ciawi-Sukabumi itu memang sangat parah sekali. “Dan saya pernah merasakannya,” pungkas Presiden.

Sementara itu, Kota Depok, Jawa Barat yang diketahui tumbuh dengan basis ekonomi kreatif, sangat membutuhkan dukungan transportasi publik. Tak hanya itu, Kota Depok juga memiliki keunggulan sumber daya manusia khususnya dikalangan muda dari sejumlah perguruan tinggi disekitarnya.

“Depok bisa menjadi kota percontohan di Indonesia dengan perkembangan kotanya khususnya di era otonomi saat ini,” ujar Ali Berawi, Direktur Direktorat Riset & Pengembangan Masyarakat (DRPM) Universitas Indonesia (UI), dalam diskusi tentang potensi Kota Depok di kampus UI Depok, beberapa waktu lalu.

Dalam 10 tahun mendatang perkembangan Kota Depok diprediksi bakal semakin pesat. Oleh sebab itu Pemkot Depok harus mengimbangi dengan pembangunan proyek infrastruktur untuk menciptakan kota yang lebih berkelanjutan (sustainable city).

Pembangunan jalan harus mengikuti pengembangan wilayah yang saat ini terus melebar keluar dari pusat pengembangan yang terpusat di Jl Raya Margonda.

“Depok harus dibangun dengan mengusung sarana transportasi publik dan pedesterian yang mengintegrasikan kawasan komersial dengan hunian khususnya apartemen,” imbuhnya.

Pengembangan pusat-pusat pertumbuhan baru harus terus didorong agar semua wilayah ikut terangkat. Hal ini tidak dapat dihindari mengingat koridor Margonda sudah padat dan dukungan infrastrukturnya semakin terbatas.Kalau integrasi wilayah dapat diciptakan melalui penyediaan infrastruktur dalam 10 tahun mendatang kota ini akan menjadi lebih baik.

Apalagi, setelah lebaran tahun ini Pemerintah bakal membangun rumah susun (rusun) serta apartemen di dekat stasiun KRL Jabodetabek, dengan skema transit oriented development (TOD). PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BTN) ditunjuk sebagai penyedia pembiayaan lewat kredit kepemilikan apartemen (KPA).