Ilustrasi. (Foto: dok.inapex)
Ilustrasi. (Foto: dok.inapex)

 

JAKARTA, INAPEX.co.id – Program penyediaan rumah murah seharga Rp.350 juta dengan down payment (DP) nol rupiah yang telah dicanangkan salah satu Calon Wakil Gubernur, dirasakan sangat pesimis untuk diterapkan di DKI Jakarta.

Pasalnya, sebagai pusat perekonomian, Ibu Kota Jakarta merupakan kota terpadat penduduk di Indonesia. Bahkan, ketersediaan lahan dengan harga murah pun dirasakan sangat sulit untuk dijadikan hunian.

Direktur Eksekutif Indonesia Property Watch (IPW) Ali Tranghanda membenarkan, bahwa ketersediaan lahan di Jakarta untuk dijadikan permukinan sudah hampir tidak ada. Kendati, ada tanah belum terbangun, statusnya pun sudah dimiliki pengembang swasta. “Jadi kemungkinan kalau mencari lahan di Jakarta sudah penuh,” kata Ali Tranghanda.

Lebih lanjut dikatakan Ali Tranghanda, dari 5 wilayah yang ada di Jakarta, hanya Jakarta Timur yang masih menyisakan lahan kosong. Sayang, masih ditegaskan Ali Tranghanda, lahan itu pasti sudah dikuasai pihak swasta.

“Sebenarnya Jakarta Timur sebagian besar untuk industri dan pergudangan. Tapi hanya Jakarta Timur yang masih ada lahan kosong. Sayangnya punya swasta,” ujarnya.

Menurut Ali Tranghanda, apabila memang ada program penyediaan rumah dengan harga yang miring, maka lahan di Kemayoran dapat dijadikan sebagai pilihan. Meski itu dimiliki oleh Sekretariat Negara (Setneg), Kemayoran sebagai satu dari sedikit lahan kosong yang belum dikuasai pihak swasta.

“Itu kalau betul-betul ingin adanya public housing. Tanah Setneg tersebut dapat dialihkan ke Pemprov DKI Jakarta. Lahan di Kemayoran itu masih luas,” tambah Ali Tranghanda.

Kemudian Ali Tranghanda mengakui, itu pun hanya dapat dibangun rumah susun (rusun) bukan rumah tapak. Sebab sangat mustahil dengan keterbatasan lahan bisa menggulirkan program penyediaan rumah murah.

Data IPW mencatat rata-rata harga tanah paling murah berada di wilayah Jakarta Timur yakni senilai Rp 7,9 juta per meter per segi. Jika dihitung dengan modal Rp 350 juta untuk beli tanah di Jakarta Timur hanya akan mendapatkan lahan seluas 44 per m2. Itu pun belum dihitung biaya bangunan.

Sementara itu, Country Manager rumah123.com, Ignatius Untung mengakui, berdasarkan daftar listing rumah yang diiklankan tersebut dapat ditemui di beberapa lokasi di Jakarta.

Kendati demikian, rumah-rumah tersebut mayoritas merupakan rumah second atau bekas dan jumlahnya pun terbatas, tidak sampai 100 unit.

“Kita lihat datanya, tapi ini datanya fluktuatif. Kemarin kita cek di hari Sabtu (25/3/2017), kalau bicara Jakarta saja, jumlahnya yang kita hitung di bawah Rp 350 juta, itu jumlahnya hanya 0,05% dari total semua listing yang ada di Jakarta. Jumlahnya enggak sampai 100,” katanya, Kamis (30/3).

Namun demikian, kata dia rumah ini luasnya tergolong sangat kecil, berkisar 20-50 meter persegi. Lokasinya tersebar di seluruh wilayah di Jakarta, termasuk di Jakarta Pusat.

“Kita coba cek satu-satu, tipenya kayak apa, itu luasannya 20-50 meter. Kedua, kondisinya bisa dibilang rumah lama, kayak rumah petak, kondisinya sudah enggak begitu baru lagi. Kalau di daerah pusat, utara dan barat, itu kebanyakannya agak di dalam gang. Kalau Selatan dan Timur masih ada yang enggak di dalam gang,” pungkasnya.