Terus Fokus Geluti Dunia Properti, PP Pracetak Ganti Nama
Ilustrasi. (Foto: dok.inapex)

 

JAKARTA, INAPEX.co.id – PT PP Properti Tbk (PPRO) mempunyai sejumlah rencana ekspansi. Diantaranya termasuk rencana mengakuisisi lahan di Kertajati, Majalengka, Jawa Barat, seluas 200 hektare. Langkah itu, menangkap respon pemerintah akan membangun bandar udara internasional di wilayah tersebut.

Nantinya, di atas lahan itu, PPRO akan mengembangkan kawasan terpadu Aero City. Untuk memoles Kertajati, anak usaha PT PP Tbk ini menggandeng PT Bandarudara Internasional Jawa Barat (BIJB). “Kami bekerjasama dengan BIJB untuk mengembangkan business park, kondotel, dan apartemen,” ujar Indaryanto, Direktur Keuangan PPRO seperti dilansir KONTAN, baru-baru ini.

Tak hanya itu, PPRO berencana mengembangkan area perkantoran, mal, dan hotel untuk menunjang kinerja bandara internasional tersebut. Mereka mulai menggarap pengembangan lahan tersebut akhir tahun nanti, melalui anak usaha patungan yang akan didirikan bersama BIJB. Saat ini, PPRO masih fokus membebaskan lahan.

Selain Aero City di Kertajati, PPRO tengah menyiapkan peluncuran proyek properti di wilayah Jatinangor berupa apartemen mahasiswa dan ground breaking Amartha View di Semarang.

Tahun ini, PPRO menyiapkan anggaran belanja mencapai Rp 2 triliun hingga Rp 2,5 triliun. Sumber dana berasal dari kas internal dan sinergi dengan perbankan. Sebanyak Rp 900 miliar telah mereka realisasikan. PPRO menggunakan mayoritas dana untuk akuisisi lahan di Surabaya dan Jatinangor, masing-masing seluas 9,6 ha dan 1,4 ha. “Kami akan akuisisi lagi di wilayah Bogor dengan porsi cukup besar,” tutur Indaryanto. Saat ini, PPRO menguasai landbank seluas 250 ha.

PPRO juga aktif mengeduk pendanaan eksternal. Akhir Agustus lalu, emiten ini menerbitkan surat utang jangka menengah (MTN) senilai Rp 287 miliar. Surat utang itu akan jatuh tempo pada 30 Agustus 2020 mendatang. Surat utang ini menetapkan bunga sebesar 10% dan bakal dibagikan pada pemegangnya setiap tiga bulan. Pembayaran pertama akan berlangsung 30 November 2017. MTN itu merupakan surat utang jangka menengah keenam yang sudah PPRO terbitkan.

Rencana ekspansi PPRO tentu diiringi oleh proyeksi kondisi keuangan yang cukup stabil. Langkah Bank Indonesia memangkas suku bunga acuan jadi 4,25% turut mendorong sektor properti.

Indaryanto optimistis, dengan suku bunga yang rendah, konsumen merasa lebih nyaman. “Kami proyeksi, marketing salestahun ini tumbuh 10%,” ujar dia.

PPRO meyakini, sektor yang bakal memberikan dorongan terbesar berasal dari residensial apartemen, dengan sumbangan mencapai 95% terhadap total pendapatan mereka. Sementara sisanya datang dari recurring income yang meliputi pusat belanja dan hotel. “Oleh karena itu, tahun ini dan tahun depan kami akan menambah jumlah mal,” kata Indaryanto.

Dengan demikian, sangat memungkinkan bagi PPRO untuk mencapai target pendapatan tahun ini yang ditetapkan tumbuh 15%20%. Mengacu pendapatan tahun lalu senilai Rp 2,15 triliun, maka tahun ini PPRO berpotensi membukukan pendapatan berkisar Rp 2,47 triliun sampai Rp 2,58 triliun.

Pada akhir tahun ini, PPRO berniat meluncurkan sejumlah proyek, yakni apartemen di Wiyung Surabaya, apartemen di Jatinangor Bandung. Kemudian, melanjutkan pembangunan tower 2 di Amartha View serta menara 2 & 3 The Alton Apartemen di Semarang, juga soft launching Lagoon Avenue di Bekasi.

Ada pula groundbreaking untuk Grand Shamaya di Surabaya, Begawan di Malang, Amartha View Tower 2 dan The Alton Apartemen Tower 2 di Semarang, serta Tower Victoria GKL di Bekasi.

Tahun depan, PPRO akan meluncurkan serangkaian proyek baru. Sebut saja, apartemen di Paragon Semarang, apartemen di Kertajati, apartemen di Yogyakarta, dan apartemen di Cibubur.

Selama semester pertama tahun ini, PPRO mencatatkan pendapatan senilai Rp 1,05 triliun. Jumlah tersebut meningkat 7,74% dibandingkan dengan pendapatan di periode yang sama tahun lalu yang sebesar Rp 973,77 miliar. Kontribusi terbesar pendapatan itu berasal dari penjualan realty, mencapai 95%.

Hingga 30 Juni 2017, penjualan realty PPRO senilai Rp 995,25 miliar. Angka ini meningkat 8,29% dibanding periode yang sama 2016. Adapun pendapatan properti hanya menyumbang senilai Rp 53,851 miliar atau turun 10,40% dari setahun lalu.

Dari sisi bottom line, PPRO membukukan laba bersih sebesar Rp 160,57 miliar di semester I 2017. Angka tersebut tumbuh 2,11% ketimbang pencapaian di periode sama tahun lalu Rp 157,25 miliar.