Poin Penting Buat Anda Yang Ingin Memulai Investasi Properti
Investasi (Foto: akadusyifa)

 

JAKARTA, INAPEX.co.id – Kini, Sejumlah orang ingin memulai investasi properti. Pasalnya properti masih menjadi alternatif investasi yang banyak dipilih pemilik kapital. Asumsi bahwa harga properti tak pernah turun, sangat menggiurkan banyak orang. Terlebih wujudnya riil sehingga mereka merasa aman membelinya.

Keuntungan investasi properti dapat diperoleh dari surplus kenaikan harga atau capital gain, hasil sewa (yield) atau yang terbagus dari keduanya.

Menurut pengamat properti Panangian Simanungkalit, capital gain mesti di atas laju inflasi. Sedangkan yield  tergantung jenis propertinya. Untuk rumah yield 3-5 persen per tahun sudah bagus, sedangkan apartemen di angka 6-7 persen, ruko 8-10 persen per tahun.

Kenaikan harga properti sangat tergantung lokasi, jumlah pasokan dan permintaan (supply and demand), konsep pengembangan, infrastruktur, aksesibilitas, dan fasilitas di kawasan, serta komitmen developer dalam menghidupkan proyek properti yang dikembangkan.

Pakar marketing properti Andy K Natanael memberikan contoh maraknya pembangunan apartemen di Alam Sutera, Serpong, Tangerang Selatan, Banten. “Lokasi sangat bagus, dekat tol, dan fasilitas komplit,” tuturnya.

“Hanya kebanyakan memasarkan tipe studio dan satu kamar tidur dengan sasaran para mahasiswa. Jumlah apartemennya ada 20 proyek, sedangkan di Alam Sutera baru ada dua kampus perguruan tinggi. Akibatnya suplai tipe studio dan satu kamar tidur berlebih,” lanjutnya.

Komposisi konsumen juga harus dipertimbangkan. Perbandingan pembeli investor dengan enduser (pemakai akhir) mesti lebih banyak enduser, agar perumahan/apartemen cepat hidup. Jika sebaliknya, konsumen investor lebih dominan, proyek properti akan sulit untuk segera hidup.

“Proyek akan menjadi ghost town (kota hantu). Kalau sudah begini, orang yang akan menyewa pun jadi tidak tertarik sehingga harganya sulit diharapkan cepat naik,” imbuhnya.

Komitmen developer menghidupkan proyeknya juga sangat penting. Oleh sebab itu, Andy menyarankan konsumen jangan terbuai penawaran harga yang murah, namun kritisi pula semua infrastruktur dan fasilitas yang dijanjikan dalam iklan developer.

Jika developer menjanjikan akan menghadirkan banyak sekolah berkualitas, mal, kampus, dan fasilitas lainnya, sebaiknya ditanyakan sekolah atau kampus apa yang akan masuk, sudah ada MOU-nya atau belum. Jika developer tak bisa memperlihatkan daftarnya atau sebatas klaim konsumen mesti berhati-hati.

Hal lain yang harus memperoleh perhatian konsumen tentang konsistensi konsep yang akan dikembangkan.

Misalnya, pengembang tengah mengembangkan properti yang sebagian membidik pasar menengah agak ke bawah dengan menawarkan hunian murah.

Namun, yang ditonjolkan dalam iklan-iklannya mal, rumah sakit, sekolah, dan fasilitas lain yang semuanya untuk kalangan menengah-atas. Jadi fasilitas yang dibangun nanti tak sesuai dengan kebutuhan riil sebagian penghuninya.

Yang juga perlu diperhatikan, skala pengembangan proyek. Jika membeli properti di proyek berskala kota, pengembangannya butuh waktu lama, bisa di atas 10 tahun baru mulai kelihatan menjadi sebuah kota.

“Jadi, investasi properti itu harus cerdas. Kalau properti yang dibeli di proyek raksasa, ya harus sabar (menunggu untuk) mendapatkan keuntungan yang signifikan,” tuntas Andy.