Perumnas dan PT KAI Bangun 4.980 Unit Hunian di Lahan Kosong Stasiun
Stasiun Bogor (Foto: okezone)

JAKARTA, INAPEX.co.id, – Perum Perumnas dan PT Kereta Api Indonesia (KAI) telah menandatangani nota kesepahaman (MoU) untuk pengembangan kawasan yang terintegrasi dan inklusif berbasis Transit Oriented Development (TOD).

Melalui MoU tersebut kedua perusahaan pelat merah berharap bisa menyajikan alternatif hunian yang lebih efisien, khususnya untuk masyarakat yang memakai KRL sebagai moda transportasi utama dalam aktivitas sehari-hari.

“Konsep TOD memudahkan mobilisasi masyarakat. Pemukiman ini akan memanfaatkan lahan yang tidak terpakai di sekitar stasiun kereta api,” tutur Direktur Utama Perum Perumnas Bambang Triwibowo, di Jakarta, Senin (19/12).

Dalam pengembangan tahap awalnya, hunian terintegrasi dan inklusif berbasis TOD ini akan dibangun di Stasiun Bogor, Stasiun Pondok Cina, dan Stasiun Tanjung Barat.

Pencanangan awal atau ground breaking  dijalankan pada Februari 2017 mendatang dan ditargetkan selesai dalam kurun dua hingga empat tahun mendatang.

Stasiun Bogor akan jadi lokasi pertama pembangunan hunian berupa rumah susun hak milik (rusunami) berbasis TOD.

“Kami akan mulai dari yang besar di Bogor. Itu kan karena lokasinya ujung. Terus bertahap karena ada enam menara. Mulai 2,5 tahun selama itu berlangsung sampai 4 tahun itu nanti,” kata Direktur Korporasi dan Pengembangan Bisnis Perumnas Galih Prahananto.

Rusunami dengan konsep TOD di Stasiun Bogor akan dibangun di atas lahan seluas 4,2 hektar dengan terdiri dari enam menara sekitar 3.600 unit.

Di Stasiun Pondok Cina, Perumnas akan membangun rusunami  yakni seluas 0,55 hektar, terdiri dari dua menara dengan sebanyak 520 unit.

Terakhir untuk di Stasiun Tanjung Barat, lahan milik PT KAI yang akan dibangun rusunami oleh Perumnas di atas lahan 1,45 hektar yang terdiri dari dua menara berjumlah 860 unit.

Proyek besar ini dinilai cukup lama rampunynya, sebab pembangunan di atas tanah KA tidaklah mudah seperti membangun di atas tanah kosong.

“Kami harus memperhatikan lalu lintas KA, keamanan, dan segala macam. Tapi kalau ini berhasil, ini akan merupakan hunian pertama di atas KA,” tambah Galih.

Kelak, sebesar 30-40 persen unit-unit yang ada di rusunami berbasis TOD ini akan dimasukkan dalam program subsidi pemerintah atau FLPP dan sisanya untuk non-FLPP.

Rentang harga yang dipatok Perumnas untuk rusunami berbasis TOD tersebut sebesar Rp.6,5 juta hingga Rp.15 juta per meter persegi.

“Masyarakat membeli tapi tanahnya ini tetap milik PT KAI, jadi long list, bisa pakai selama 20-30 tahun yang bisa diperpanjang lagi,” tutup Galih.

(kps)