Ilustrasi. (Foto: dok.inapex)

 

JAKARTA, INAPEX.co.id, – Pertumbuhan kredit pemilikan rumah (KPR) saat ini tengah menurun. Dibandingkan tahun lalu, berdasarkan data Bank Indonesia, pertumbuhan KPR nya hanya 7 persen.

Pasalnya, pertumbuhan KPR dalam 2 tahun terakhir sedikit di bawah rata-rata dalam 3 tahun belakang. “Banyak faktornya, salah satunya karena suku bunga KPR masih relatif tinggi,” tutur Vice President Economist Bank Permata, Josua Pardede, saat ditemui INAPEX.co.id di Jakarta, baru-baru ini.

Josua mengatakan bahwa tren tahun lalu suku bunga acuan menurun 1,5 persen. Namun, tren suku bunga KPR rumah terrendah masih di angka 10,7 persen per Januari 2017. Suku bunga tersebut masih cukup tinggi sebab ada dua digit sehingga cukup memberatkan konsumen untuk membeli rumah. “Suku bunga KPR tinggi karena tren non performing loan (NPL) atau rasio kredit bermasalah juga meningkat 2015-2016,” jelasnya.

Walaupun demikian, lanjut Josua, NPL apartemen atau rumah tapak memang condong dibawah rata-rata NPL perbankan. Adapun pilihan pembayaran yang dilakukan oleh masyarakat di Indonesia, Berdasarkan data statistik Indonesia di lima tahun terakhir metode KPR/KPA sebanyak lebih dari 70 persen, sistem cash bertahap sekitar 20 persen dan cash keras 10 persen.

Di kuartal keempat tahun 2016 sistem KPR/KPA 77,2 persen, cash bertahap 15,9 persen dan cash keran 6,9 persen. Pembeli properti juga beragam di tahun 2010 pria dan wanita generasi milenial sangat mendominasi dan hampir sama prosentasenya dan hal tersebut juga terjadi diprediksi tahun 2020.

Lalu di tahun 2030 pembelian agak lebih merata antara generasi milenial dan generasi Y. Akan tetapi, di tahun 2035 generasi Y atau yang berumur 65 tahun keatas didominasi oleh pembeli wanita.

Sementara itu, pada relaxation in LTV regulation, kredit properti dan pembiayaan properti berdasarkan akad murabahah dan istishna bagi rumah tapak tipe lebih dari 70 meter persegi sekitar 80%, 70% dan 60%, serta tipe 22-70 meter persegi 80% dan 70%.

Adapun untuk rumah susun tipe lebih dari 70 meter persegi sekitar 80%, 70% dan 60%, tipe 22-70 meter persegi 90%, 80% dan 70%, tipe kurang dari 21 meter persegi 80% dan 70%, serta ruko/rukan 80% dan 70%. Lokasi top 10 yang banyak di cari orang pun mengalami perubahan yang menarik.

Di kuartal 1 2016 posisi pertama Jakarta Selatan, dilanjut Tangerang, Bandung, Bekasi, Jakarta Timur, Tangerang Selatan, Jakarta Barat, Depok, Bogor, dan Surabaya. Kuartal 2 tahun 2016 adalah Jakarta Selatan, dilanjut Bandung, Tangerang,  Bekasi, Jakarta Timur, Jakarta Barat, Tangerang Selatan, Bogor, Depok, dan Surabaya.

Lalu kuartal 3 2016 yakni Jakarta Selatan, dilanjut Bandung, Tangerang, Bekasi, Jakarta Timur, Depok, Tangerang Selatan, Bogor, Jakarta Barat, dan Surabaya. Terakhir kuartal 4 2016 posisi pertama Jakarta Selatan, dilanjut Bandung, Bekasi, Tangerang, Jakarta Timur, Depok, Bogor, Tangerang Selatan, Jakarta Barat, dan Surabaya.