Ketua Umum REI Soelaeman Soemawinata berfoto bersama dalam acara Rakernas REI 2018. (Foto: validnews)

BALI, INAPEX.co.id – Pertemuan pengusaha properti dunia pada Kongres The International Real Estate Federation (FIABCI) menghasilkan kesepakatan dengan pontensi Rp.10 Triliun.

“Ada 17 perusahaan yang akan ikut dalam B to B meeting dengan total nilai 68 triliun, tetapi ada beberapa yang sudah tandatangan kerja sama bisnis dengan potensi nilai Rp10 triliun,” kata Ketua Umum REI Soelaeman Soemawinata di Nusa Dua, Bali, belum lama ini.

Lebih lanjut Soelaeman menjelaskan, kerjasama dengan investor asing sudah berlangsung dalam tiga tahun terakhir ini dengan total nilai Rp105 Triliun. Sebagai contoh China Fortune Land Development (CFLD) Singapura dengan Alam Sutera, Mitsui dengan Summarecon, Hyundai dengan Metland, serta masih banyak lainnya.

Soelaeman optimistis, temu bisnis yang melibatkan 17 perusahaan ini akan menemukan kesepakatan. Kendati untuk tahun 2019 Indonesia memasuki tahun politik, namun pengembang asing melihat ekonomi Indonesia stabil.

Apalagi, ia melihat banyak objek wisata di Indonesia yang sangat menarik untuk dikembangkan. “Untuk itu kami mengajak pengembang global untuk bersama-sama pengembang Indonesia mengembangkan potensi pariwisata di sejumlah daerah,” tuturnya.

Tema kongres yang mengusung hunian terjangkau (affordable housing) ini, sedianya juga akan menampilkan UN Habitat dan Bank Dunia sebagai pembicara untuk berbagi pengalaman mengenai hunian terjangkau.

Menurut Soelameman, hampir sebagian besar anggota REI merupakan pengembang kecil dengan proyek dengan rumah bagi menengah ke bawah. Nah, melalui ajang tersebut, diharapkan ada pengalaman kerja sama dengan pengembang besar dibidang pembangunan rumah terjangkau.

“Bahkan tidak tertutup kemungkinan peluang kerja sama dengan pengembang global untuk membangun rumah dengan harga terjangkau,” ungkap Soelaeman.

Dalam kesempatan itu, Bank Indonesia mengajak REI untuk saling bertukar data sebagai gambaran mengenai stabilitas ekonomi makro, untuk dipergunakan dalam mengeluarkan kebijakan moneter.

Sektor properti sendiri memiliki multiplier effect yang bisa mempengaruhi stabilitas ekonomi makro karena di dalamnya terdapat 170 industri dan sub industri pendukung.

“Kalau sampai sektor ini mengalami penurunan tentunya juga berdampak turunnya ekonomi,” kata Asisten Gubernur Bank Indonesia Filianingsih Hendarta.

Filianingsih menambahkan, kerja sama pertukaran data ini sebagai implementasi penandatangan MOU kerja sama kedua institusi, untuk nantinya dilanjutkan melalui pengembangan sumber daya manusia dan kerja sama lainnya.

“Data properti ini sangat penting, bagaimana kami bisa membuat kebijakan yang akurat kalau tidak ada data. Kebijakan ini nantinya juga sangat penting untuk mendukung usaha dan bisnis dari pengembang properti,” pungkas Filianingsih.