Ilustrasi peserta pameran IPEX 2017. (Foto: dok.inapex)
Ilustrasi peserta pameran IPEX 2017. (Foto: dok.inapex)

 

JAKARTA, INAPEX.co.id, – Kalangan konsumen dan pengusaha properti terpaksa harus gigit jari, lantaran tak bisa menikmati penyesuaian suku bunga Kredit Pemilikan Rumah (KPR) yang telah diumumkan oleh Bank Indonesia (BI).

Pasalnya, respon kebijakan pemerintah melalui penurunan suku bunga sesuai acuan (BI rate) dinilai sangat lambat oleh kalangan perbankan.

Bahkan, kendati BI rate telah mengalamai penurunan mulai 7,5 persen sampai 6,75 persen, namun bunga bank masih terlihat anteng pada level dua digit, rata-rata di atas 11 persen.

Padahal, kebijakan pemerintah untuk mendukung terwujudnya program satu juta rumah tersebut, sangat dinanti oleh kalangan pengusaha dan konsumen properti.

Menanggapi lambatnya respon kalangan bank tersebut, Direktur Eksekutif Indonenesia Property Watch (IPW) Ali Tranghanda menilai, penurunan suku bunga kredit akan menggairahkan kembali pasar properti.

Bahkan tak sedikit konsumen masih menunggu dan akan merealisasikan pembelian properti ketika suku bunga turun lebih rendah. Lebih lanjut dikatakan, Ali Tranghanda, oleh sebab itu penurunan suku bunga secara tidak langsung akan menguntungkan para perbankan karena pasarnya menjadi lebih luas.

“Dampak penurunan suku bunga untuk properti ini cukup luar biasa. Kami pernah menghitung, setiap penurunan 1 persen suku bunga kredit akan meningkatkan pasar KPR hingga 4-5 persen. Kalau tren penurunan ini terus berlanjut saya memperkirakan peningkatan pangsa pasar KPR bisa mencapai 10-25 persen. Artinya pasar properti 2016 tengah bersiap untuk pulih,” kata Ali, di Jakarta, baru-baru ini.

Selain itu, Ali juga sangat mengerti penurunan BI rate tidak serta merta diikuti turunnya suku bunga pinjaman. Hal ini disebabkan sumber dana (cost of fund) perbankan cukup tinggi.

Tak hanya itu, persoalan kredit macet atau non perfomrning loan (NPL) terus meningkat. Bila dirata-rata lending rate di Indonesia berkisar 12,5 persen atau real lending rate setelah dikurangi inflasi menjadi sekitar 6,3 persen, sementara bunga deposito juga berkisar 5 persen.

Lebih lanjut dikatakan Ali, kebijakan BI menurunkan giro wajib minimum (GWM) dari 8 persen menjadi 7,5 persen keputusan tepat. Pelonggaran moneter ini minimal bisa mengurangi cost of fund hingga suku bunga kredit seharusnya juga ikut turun.

“Saya berharap Bank BTN sebagai pionir bank perumahan bisa menerapkan bunga lebih rendah dibandingkan bank lainnya. Saat ini bunga KPR BTN malah lebih tinggi dari bank lain dan ini bertolak belakang dengan visinya sebagai bank perumahan. BTN harus memelopori penurunan bunga supaya industri properti bisa bergairah,” ujarnya.