Infografik sistem delivery penyaluran dana FLPP. (Foto: PPDPP)

JAKARTA, INAPEX.co.id – Selain bisa dimiliki dengan harga terjangkau, rumah subsidi ternyata terbukti laris manis diserbu konsumen properti. Apalagi banyak pengembang perumahan yang tak sedikit memanfaatkan program subsidi pemerintah.

Khusus untuk membeli hunian pertama ini, suku bunganya flat (tetap) 5% selama masa cicilan (bisa sampai 20 tahun), termasuk asuransi. Dengan DP ringan (1%), konsumen juga bebas Pajak Pertambahan Nilai (PPN).

Berdasarkan data PPDPP, dana FLPP banyak digunakan oleh pegawai yang bergaji Rp2,5 juta.
Bahkan, konsumen yang bergaji Rp1 juta pun ada juga yang menerima dana FLPP, tapi persentasenya kecil sekali.

Kemudian, bagi pekerja dan sudah menjadi anggota BPJS Ketenagakerjaan selama satu tahun, masih aktif bekerja, dan gak pernah mengunggak iuran, juga bisa mengajukan KPR dengan skema FLPP dengan DP 1% ini.

Suku bunganya tetap 5%. Dananya berasal dari BPJS Ketenagakerjaaan, tapi permohonan dan verifikasi data tetap dilaksanakan oleh bank pelaksana.

Sementara itu, terkait kenaikan suku bunga Kredit Pemilikan Rumah (KPR), dinilai tak mempengaruhi penyaluran rumah subsidi.

Pasalnya, tren kenaikan bunga KPR PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk pada kuartal III/2018 KPR subsidi tumbuh 30,11% secara tahunan (yoy) menjadi Rp88,92 triliun.
Kemudian, KPR non subsidi tumbuh 13,22% yoy menjadi Rp74,69 triliun.

Apalagi, pertumbuhan KPR perseroan, baik subsidi dan non subsidi di atas rata-rata industri. Kondisi tersebut membuktikan kenaikan suku baunga dampaknya tergolong kecil.

“Tapi kalau menghitung dampak, lebih sensitif terkena non subsidi. Subsidi itu fix sampai lunas jadi minat masih besar,” kata Diretur Utama BTN Maryono di Menara BTN, Jakarta, belum lama ini.

Lebih lanjut dikatakan Maryono, pada kuartal III/2018, BTN menyalurkan pendanaan Rp220,07 triliun atau naik 19,28% (yoy).

BTN mencatat Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP) memberikan angin segar terhadap laju pertumbuhan kredit.

Selanjutnya bank milik negara ini akan berupaya mengoptimalkan sekaligus mendukung target program sejuta rumah yang menyasar masyarakat berpenghasilan rendah (MBR).

Secara keseluruhan kredit pemilikan rumah (KPR) masih menjadi tulang punggung bisnis BTN. Pendanaan untuk sektor itu tumbuh 21,81% (yoy) menjadi Rp126,61 triliun.