56,2% Pengembang, Gunakan Dana Internal Untuk Pembiayaan Proyek
Salah Satu Pengembang Properti (Foto: dok.inapex)

 

JAKARTA, INAPEX.co.id, – Berdasarkan data Bank Indonesia (BI), Kamis (19/1), sepanjang kuartal ketiga 2016 sebanyak 56,2% pengembang memakai dana internal untuk sumber utama pembiayaan proyeknya.

Di situasi seperti ini yang diuntungkan tentu konsumen sebab akan memperoleh harga kompetitif.

Hal ini dipicu dengan melemahnya perekonomian dan situasi pasar properti belum terlalu membaik performa sektor ini, meski di tahun 2017 sudah mulai terasa pemulihan penjualan properti.

Hampir semua pengembang mengakui kesulitan dan tak bisa mengandalkan dana dari konsumen untuk mengembangkan proyeknya.

Oleh sebab itu, kalangan pengembang mesti lebih cermat dan kreatif untuk urusan mengelola dana.

Saat ini tak dapat lagi mengandalkan keunggulan proyek pada lokasi dan fasilitas namun konsep pengembangan dan produk yang diluncurkan mesti sesuai dengan kebutuhan pasar.

Adapun pengembang juga mesti efisien dan ekstra kreatif dalam mengeluarkan produk propertinya.

BI juga mengatakan bahwa kalangan pengembang menerapkan beragam strategi untuk bertahan. Misalnya sekitar 48,79 persen pengembang memakai laba ditahan, 38,4 persen modal disetor, sistem joint venture 3,35 persen, dan strategi lainnya 9,46 persen.

Pengembang juga berusaha memanfaatkan dana ini agar bisa mencetak laba dalam waktu relatif singkat.

Salah satu contohnya, Jakarta semakin menarik bagi pengembang asing untuk mengembangkan properti.

Wuzhou Investment Group, pengembang asal Cina, melalui PT Sindeli Propertindo Abadi (SPA) meluncurkan superblok Jakarta (JKT) Living Star di Pasar Rebo, Jakarta Timur.

Untuk mengembangkan hunian sekaligus lifestyle center ini SPA mengakuisisi lahan seluas 4,8 hektar. Nantinya akan dikembangkan 6 tower apartemen, fasilitas kesehatan, mal, function room, distrik komersial, dan sejumlah fasilitas lainnya.

“Kami meluncurkan apartemen dengan harga terjangkau untuk memenuhi kebutuhan kelas menengah di Jakarta yang sangat besar,” ujar Director SPA, Huang De Xin,  saat peluncuran superblok Jakarta (JKT) Living Star di Jakarta.

Pada tahap awal akan dikembangkan 1 tower apartemen meliputi 594 unit disusul pengembangan pusat komersial (mal) seluas 3.000 m2.

Apartemennya ditawarkan senilai Rp.11 -13 juta/m2, tipe studio mulai Rp.260 juta (sudah termasuk PPN). Untuk mengembangan tahap pertama investasinya sebanyak 20 juta dolar AS yang bersumber dari dana internal.

Jkt Living Star mengusung 4 zona,  art commercial pedestrian, street living space, eco-park, dan breathing apartment. Keempat zona tersebut saling terkait untuk memadukan hunian ramah lingkungan, pusat perbelanjaan modern, hiburan, pusat kuliner, rekreasi, olahraga, pendidikan, bisnis, dan sebagainya.

Area terbukanya sangat luas dengan rasio 65:35 plus jogging track sepanjang 666 meter. Tersedia jaringan TV kabel dan serat optik untuk internet berkecepatan tinggi.

“Kami membangun proyek ini dengan dana sendiri untuk membangun reputasi. Proyek ini akan dibangun April 2017 dengan target serah terima tahun 2020,”  jelasnya.