Terus Fokus Geluti Dunia Properti, PP Pracetak Ganti Nama
Stand PPRO di ajang pameran IPEX. (Foto: dok.inapex)

JAKARTA, INAPEX.co.id – Kendati pendapatan berulang naik 8,06% menjadi Rp 178,61 miliar sejak tahun 2017 sebesar Rp 165,29 miliar, namun PT PP Properti (PPRO) tetap optimis penjualan terus meningkat di Tahun 2019.

Kenaikan pendapatan properti ana usaha PT PP Tbk itu terdorong oleh pendapatan service charge yang juga meningkat 176% menjadi Rp 52,82 miliar.

Kenati demikian, pendapatan hotel justru turun 13,70% menjadi Rp 116,56 miliar dan pendapatan sewa turun 17,09% menjadi Rp 9,22 miliar.

Tapi penurunan beban pokok penjualan menyebabkan laba kotor dan margin laba kotor PPRO naik. Pada tahun 2018, beban pokok penjualan PPRO turun 8,04% menjadi Rp 1,89 miliar.

PPRO mencatatkan margin laba kotor 25,92% di tahun lalu. Margin laba kotor ini naik dari tahun sebelumnya yang sebesar 23,98%.

Alhasil, PPRO mencetak kenaikan laba 5,98% menjadi Rp 471,26 miliar di tahun lalu dari sebelumnya Rp 444,68 miliar. Capaian tersebut tak lepas dari upaya emiten itu dalam mendorong pertumbuhan marketing sales di tantangan lesunya permintaan di sektor properti.

Dalam keterangan resminya Kamis (14/3), PPRO menyebutkan bahwa salah satu sumber tumbuhnya laba bersih 2018 adalah pencapaian marketing sales yang mencapai Rp 3,48 triliun atau naik 12,62%, dari periode yang sama tahun lalu yakni Rp 3,09 triliun.

Sementara kontribusi kenaikan marketing sales tahun lalu, di antanya dari Proyek Grand Shamaya – Surabaya sebesar 30%, Grand Dharmahusada Lagoon – Surabaya sebesar 18%, Westown View – Surabaya sebesar 15%, Grand Sungkono Lagoon – Surabaya sebesar 13%, Grand Kamala Lagoon – Kalimalang sebesar 6%, dan proyek-proyek realti serta komersial lainnya.

“Kenaikan laba bersih tahun ini membuktikan bahwa perseroan konsisten untuk terus berupaya meningkatkan laba bersihnya terus menerus,” kata Direktur Utama PPRO, Taufik Hidayat, belum lama ini.

Terhitung sejak akhir 2018, total aset PPRO meningkat 31,13% menjadi Rp 16,47 triliun, dibandingkan tahun sebelumnya sebesar Rp 12,56 triliun. Total liabilitas PPRO melonjak 41% menjadi Rp 10,66 triliun dan total ekuitas naik 16,4% menjadi Rp 5,82 triliun.