Menteri PUPR Basuki Hadimuljono saat meninjau infrastruktur di Aceh. (Foto: PUPR)
Menteri PUPR Basuki Hadimuljono saat meninjau infrastruktur di Aceh. (Foto: PUPR)

JAKARTA, INAPEX.co.id, – Pemilik rumah korban gempa di Aceh, mendapat bantuan dana stimulus hingga puluhan juta. Kepala Pusat Data, Informasi dan Humas Badan Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho membenarkan, pemerintah memberikan bantuan bagi warga Aceh yang rumahnya hancur akibat gempa.

Penerima bantuan diantaranya bagi pemilik rumah yang mengalami rusak berat, akan diberikan stimulus Rp 40 juta sedangkan rumah rusak sedang dan rusak ringan dibantu stimulus Rp 20 juta.

“Jadi pemerintah tidak mengganti total, bantuan pasca bencana adalah sifatnya stimulus perangsang,” kata Sutopo di kantor BNPB, Jakarta, belum lama ini.

Menurut Sutopo, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) nantinya juga akan dilibatkan mendesain konstruksi bangunan rumah yang tahan guncangan gempa.
“Nanti akan disiapkan dari Kementerian PU Pera, desain rumah yang tahan gempa,” ujarnya.

Hingga saat ini jumlah Rumah yang mengalami kerusakan di Kabupaten Pidie Jaya tercatat sebanyak 11.267 unit. Rinciannya, 2.874 rumah rusak kategori berat dan 8.393 rumah rusak ketagori ringan. Sedangkan di Kabupaten Bireun, tercatat ada 271 rumah. Rinciannya, 56 unit rusak berat, 74 rusak sedang, dan 141 rusak ringan. Kemudian, di Kabupaten Pidie, tercatat ada 143 unit rumah megalami kerusakan.

Sutopo menambahkan, para ahli dari Institut Teknologi Bandung (ITB) juga akan diberangkatkan ke lokasi. Kehadiran tim ahli tersebut guna membantu auditing penanggulangan kondisi infrastruktur yang mengalami kerusakan akibat gempa. “Hari ini dikirimkan para ahli dari ITB untuk membantu dalam audit bangunan dan infrastruktur yang alami kerusakan,” kata dia.

Sementara itu, secara terpisah Kementerian PUPR menambah 30 unit Hidran Umum untuk memenuhi kebutuhan layanan air bersih di lokasi-lokasi pengungsian korban bencana gempa bumi di Kabupaten Pidie, Pidie Jaya dan Bireun, Provinsi Nangroe Aceh Darussalam.

30 Unit HU tersebut tiba dari Medan dan Jakarta. Sebelumnya untuk memenuhi layanan air bersih baru termobilisasi sebanyak 11 mobil tangki air (MTA) dan 20 unit HU.

Menteri PUPR Basuki Hadimuljono mengakui, kondisi darurat seperti pasca gempa di Aceh, yang paling penting adalah ketersediaan prasarana dan sarana air bersih juga sanitasi. Hal itu menjadi kebutuhan utama sehari-hari bagi para korban dan pengungsi. “Kami sangat concern dengan air bersih terutama di tempat-tempat pengungsian,” tuturnya saat meninjau kondisi pasca gempa di Aceh.

Kepala Satker Tanggap Darurat Direktorat Jenderal Cipta Karya Kementerian PUPR Abdul Hakam mengatakan, semua armada dan peralatan telah berfungsi saat ini bisa mensuplai 12 titik pengungsian untuk 13.290 pengungsi. Hakam mengatakan ke-30 HU tersebut akan didistribusikan ke titik-titik pengungsian yang baru teridentifikasi.

“Telah terjadi peningkatan jumlah titik pengungsian yang semula 9 titik (10.029 jiwa) menjadi 63 titik (42.529 jiwa). Dari data titik pengungsian yang terbaru dan melakukan crosscheck yg telah terlayani, kami telah melakukan assesment kasar melalui kunjungan ke lapangan untuk memastikan eksistensi pengungsi di tiap titik pengungsian baru hingga kami mendapatkan 18 titik pengungsian untuk 25.141 jiwa pengungsi untuk kebutuhan 22 unit HU yg belum terpenuhi,” tambah Hakam.

Hakam mengungkapkan, tambahan titik ini terkonsentrasi di kabupaten Pidie Jaya. Titik-titik pengungsian tersebut adalah titik-titik potensial dimana pengungsi selalu terkonsentrasi yang berjumlah 300 sampai dengan 1000 jiwa.

“Saat ini terdapat 12 personil Satgas Cipta Karya dan 8 personil PDAM bantuan yang akan bekerja sampai dengan Selasa besok hingga terpasangnya seluruh unit HU yang selanjutnya akan dilakukan shift per 3-4 hari bergantian untuk memastikan suplai air ke seluruh titik pengungsian terlayani kontinyuitasnya,” tambah Hakam.