Pemerintah Lakukan Terobosan Baru Dalam Pembangunan Rumah Murah
Rumah Murah (Foto: mcs)

JAKARTA, INAPEX.co.id, – Pengembangan rumah bersubsidi atau rumah sederhana membutuhkan terobosan baru. Pembangunan rumah untuk kalangan masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) tersebut selama ini tersendat-sendat sebab susahnya mencari tanah murah.

Pola hunian berimbang 1:2:3 yang diatur pemerintah juga tak berjalan. Dalam ketentuan ini setiap pembangunan satu rumah mewah mesti diikuti dua rumah menengah dan tiga rumah sederhana.

Adapun beberapa usulan yang disampaikan pengembang, seperti kategori “3” atau rumah sederhana bisa dibangun di lokasi lain, tak satu kawasan dengan rumah menengah dan mewah.

Alternatif  lain yang diberikan ialah kolaborasi antar pengembang, seperti pengembang kecil membangun rumah sederhana yang merupakan kewajiban pengembang besar.

“Setiap pengembang memiliki kompetensi masing-masing, dengan kolaborasi itu pengembang kecil bisa belajar pengembangan proyek dari pengembang besar,” papar Sekjen Realestat Indonesia (REI), Hari Raharta, kepada pers di Jakarta, Senin (17/10).

Ia memberikan contoh pengembangan rumah sederhana oleh BSD City seluas 6.000 hektare, Serpong, Tangerang Selatan, Banten, yang dilakukan sejumlah pengembang kecil.

Dulu pola hunian berimbang bukan 1:2:3 melainkan 1:3:6. Para pengembang kecil tersebut tugasnya tidak hanya membangun, namun ikut memasarkan.

Selain itu, pada kesempatan berbeda, Grand Taruma Karawang seluas 48 hektare yang dikembangkan PT Pesona Gerbang Karawang (Agung Podomoro Land/APL Group) memperoleh respon pasar yang cukup bagus.

Sejak dipasarkan tahun 2011 telah terjual lebih dari 90 persen. Dari 1.424 unit yang dipasarkan, 1.307 unit di antaranya telah terjual.

“1.077 unit sudah serah terima, ini bukti kami berhasil mengembangkan kawasan yang tadinya dianggap hanya cocok untuk kawasan industri,” jelas Senior Marketing Manager Grand Taruma, Le Rina kepada pers di Jakarta, belum lama ini.

Konsep pengembang yang ditawarkan juga menjadi salah satu keberhasilan. Tidak hanya hunian Grand Taruma yang dilengkapi area komersial dan lifestyle center berupa food area dan waterpark. Kedua fasilitas tersebut dibangun di area seluas 2 hektare dan 2,4 hektare.

Waterpark ini diklaim yang terbesar di Karawang dan area komersial berupa ruko (Dharmawangsa I-III dan Widjaya)  yang dibangun di bagian depan perumahan.

Rina menuturkan nilai properti yang dikembangkan masih mengalami peningkatan yang signifikan. Tidak hanya lokasinya dekat gerbang tol Karawang Barat di ruas tol Jakarta-Cikampek, kawasan Karawang Barat juga tumbuh pesat.

Di kawasan sekitarnya ada sejumlah kawasan industri yang menampung perusahaan industri nasional dan multinasional. Di sepanjang Jl. Arteri Tarumanegara berkembang properti hotel, ruko, apartemen, kuliner, dan mal. Meskipun belum semahal Cikarang, Bekasi, harga tanahnya sudah naik berlipat Rp.8 – Rp.9 juta/m2.

(he)