Pembangunan LRT-CIBUBUR-CAWANG
Pembangunan LRT CIBUBUR-CAWANG(foto:okezone.com)

JAKARTA,INAPEX.Co.Id, – Setelah pemancangan struktur baja dan tiang dimulai tahun 2015, pembangunan light rail transit (LRT) atau fisik kereta cepat ringan lintas pelayanan Cibubur-Cawang pun juga sudah mengalami perkembangan.

“Untuk proyek LRT Jakarta-Bogor-Depok-Bekasi (Jabodebek) hingga saat ini progresnya sudah 10 persen,” tutur Corporate Secretary PT Adhi Karya (Persero) Tbk (ADHI) Ki Syahgolang Permata, kepada pers, Minggu (18/9).

Progres 10 persen tersebut, sambung Ki Syahgolang meliputi trase Cawang-Bekasi Timur sepanjang 18,3 kilometer dan Cibubur-Cawang sepanjang 14,3 kilometer.

Seperti yang diketahui bahwa pembangunan LRT Jabodebek tersebut dibagi jadi dua tahap dengan masing-masing tahapnya terdiri dari tiga lintas pelayanan.

Tahap satu mencakup lintas pelayanan Cibubur-Cawang, Bekasi Timur-Cawang, Cawang-Dukuh Atas (10,5 kilometer) dengan 21 stasiun dan panjang 42,1 kilometer.

“Untuk lintas pelayanan Cawang-Dukuh Atas masih dalam tahap persiapan dan koordinasi dengan pihak pemerintah Provinsi DKI Jakarta,” jelas Ki Syahgolang.

Sementara untuk tahap dua lintas pelayanan Dukuh Atas-Palmerah-Senayan (7,8 kilometer), Cibubur-Bogor (25 kilometer), dan Palmerah-Grogol (5,7 kilometer) hingga membuat total panjang 41,5 kilometer.

Nantinya akan ada 10 stasiun pada tahap dua. Jalur LRT Cibubur-Cawang rencananya beroperasi pada akhir 2017, sedangkan Cawang-Dukuh Atas dan Bekasi Timur-Cawang dapat beroperasi pada 2018.

Atasi kemacetan

Kehadiran LRT begitu dinantikan untuk mengatasi sekaligus mereduksi kemacetan yang dialami setiap hari, bahkan untuk kawasan Cibubur dan sekitarnya dirasakan pada setiap jam.

Misalnya, untuk menelusuri jalan Transyogi yang hanya sepanjang 6 kilometer ke arah Pintu Tol Cibubur, memerlukan waktu 30 menit sampai 45 menit saat jam sibuk.

Sedangkan di akhir pekan bisa lebih parah dari biasanya, yaitu 1 jam. Tak heran apabila jalur ini terkenal dengan julukan “jalur neraka”.

Jelas, lamanya perjalanan tersebut dianggap pengamat perkotaan Universitas Trisakti, Yayat Supriatna, cukup kontraproduktif sebab memakan banyak waktu, tenaga dan biaya.

“Pembangunan sarana transportasi berbasis rel ini merupakan solusi tepat. Terlebih bila terintegrasi dengan bis-bis pengumpan atau ‘feeder’,” imbuh Yayat.

Dalam hal penataan ruang, konsep pengembangan yang mendukung LRT tersebut mau tak mau mesti diusung para pengembang properti yaitu transit oriented development (TOD).

Pengembangan properti yang terintegrasi dengan jaringan LRT sangat efektif mengatasi kemacetan. Para pengembang dapat saling bekerjasama membangun fasilitas park and ride.

Hal tersebut mungkin terjadi sebab para penghuni dapat memarkirkan kendaraan pribadinya di fasilitas yang tersedia dan melanjutkan perjalanan ke arah Jakarta dengan memakai LRT atau jaringan lain yang terintegrasi.