Menteri PUPR Basuki ketika meninjau lokasi banjir. (Foto: detik)
Menteri PUPR Basuki ketika meninjau lokasi banjir. (Foto: detik)

 

BIMA, INAPEX.co.id, – Pasca banjir bandang, Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), Basuki Hadimuljono meninjau langsung lokasi di Desa Padolo, Bima, Nusa Tenggara Barat (NTB).

Menteri Basuki tiba di Bandara Bima jam 10.30 WITA, setelah menempuh penerbangan langsung dari Jakarta sekitar 3 jam.

Hadir dalam kesempatan itu Walikota Bima, Qurais H. Abidin, Bupati Bima Indah Dhamayanti Putri, Direktur Jenderal Sumber Daya Air (SDA) Kementerian PUPR Imam Santoso, Dirjen Cipta Karya Sri Hartoyo, Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Danis H. Sumadilaga, dan Kepala Balai Wilayah Nusa Tenggara I Asdin Julaidy.

Kemudian Basuki melihat langsung penanganan sungai di Jalan Raya Talabiu – Bima, Desa Padolo, Kecamatan Palibelo, Kabupaten Bima.

Tanpa merasa canggung, Basuki melangkah menyisir tanggul sungai yang sempat jebol karena sungai yang meluap akibat banjir.

Kemudian, bersama dengan rombongan, Basuki menuju ke lokasi Jembatan Kodo, yang diketahui juga ikut ambruk dan sekarang telah digantikan oleh jembatan darurat. Jembatan darurat yang dipasang memiliki lebar 3,5 meter dan panjang 10 meter.

Dikarenakan, Jembatan Kodo terputus adalah melumpuhknya sampah di pilar jembatan yang menahan laju air, sehingga kombinasi antara volume air yang besar dan sampah tersebut mendorong dan merusak pilar sampai putus.

Jembatan Kodo berada di jalur utama distribusi logistik dari Bima menuju Nusa Tenggara Timur (NTT) melalui pelabuhan Sape. Putusnya jembatan tersebut mengganggu pasokan logistik ke NTT, terutama memasuki tahun baru kemarin.

Rencananya, Basuki juga akan meninjau langsung penanganan Jembatan Podolo 1 dan 2 yang juga ambruk lantaran Banjir Bima beberapa waktu lalu.

Seperti diketahui sebelumnya Kota Bima, Nusa Tenggara Barat (NTB), beberapa kali dilanda banjir bandang selama satu bulan terakhir.

Banir disebabkan oleh curah hujan yang sangat tinggi dan menyebabkan debit Sungai naik sehingga banjir akhirnya menggenangi permukiman. Hingga berita ini diturunkan, penanganan banjir Bima masih dalam masa tanggap darurat setidaknya hingga 19 Januari 2017.

Sementara itu, Henny seorang warga Desa Padolo berharap penanganan perbaikan insfrastruktur dapat segera dirampungkan oleh instansi terkait. “Saya minta pemerintah bisa menyelesaikan pemulihan ini secepatnya, karena dapat mengganggu kehidupan ekonomi kami,” katanya.