GKR Hemas menyerahkan bantuan kepada korban bencana banjir di Garut. (Foto: dok.inapex)
Wakil DPD RI GKR Hemas menyerahkan bantuan kepada korban bencana banjir di Garut. (Foto: dok.inapex)

JAKARTA, INAPEX.co.id, – Pasca bencana banjir badang, sedikitnya 384 bangunan rumah tinggal di Garut terlihat rusak parah.

Bahkan tak hanya mengakibatkan kerugian materil, namun juga menelan 27 korban jiwa, dan 23 lainnya dinyatakan hilang.

Hal tersebut dibenarkan Wakil Bupati Helmi Budiman, saat ditemui disela-sela kunjungan Dewan Perwakilan Darah Republik Indonesia (DPD RI) serta penyerahan sejumlah bantuan dilokasi bencana banjir bandang di Garut, Jawa Barat.

“Ini (bantuan) sangat membantu sekali buat kami,” ujarnya saat meninjau lokasi bencana di Garut, Jawa Barat, Jumat (23/9).

Menanggapi soal pulahan orang hilang yang hingga saat ini belum ditemukan, Helmi Budiman berharap bisa segera evakuasi. “Ini jumlah yang fantastis dan banyak. Jadi kurang lebih ada 1100 jiwa yang kehilangan tempat tinggal,” kata Helmi.

Sementara itu, Wakil Ketua DPD GKR Hemas beserta empat senator asal Jawa Barat (Oni Suwarman, Eni Sumarni, Aceng Fikri, Ayi Hambali), terlihat juga meninjau tiga titik lokasi bencana.

Dalam rombongan yang juga terlihat, Ahmad Nawardi (senator asal Jawa Timur), I Kadek Arimbawa (senator asal Bali), Siska Marleni (senator asal Sumatera Selatan), dan Jacob Esau Komigi (senator asal Papua Barat) tersebut, langsung meninajau Desa Cimacan, RSUD Dr. Slamet, dan ketempat pengungsian di Korem 062 Tarumanagara.

Hemas dikesempatan itu juga menyempatkan diri berbincang-bincang dengan para korban. Bahkan, DPD juga memberikan bantuan sembako pada korban bencana longsor. “Bantuan ini inisiatif dari anggota DPD. Kami juga memberikan santuan berupa uang tunai Rp 5 juta per jiwa bagi keluarganya yang telah meninggal karena bencana banjir bandang,” kata Hemas.

Hemas berharap musibah ini dapat menjadi pelajaran bersama terutama bagi warga yang tinggal dibantaran sungai. Ia menyarankan bagi warga yang tinggal dibantaran sungai harus menjaga kebersihan baik dari hulu hingga ke hilir.

“Kejadian ini saya harap bisa menjadi pembelajaran bersama terutama bagi warga yg tinggal dibantaran sungai,” jelasnya.

Hemas dalam kesempatan itu juga berpesan kepada pemda setempat agar tanggap darurat pada pertolongan pertama. Dalam pertolongan pertama pemda harus menyediakan pengungsian yang layak, tempat tinggal sementara, dan membantu membersihakan lingkungan yang terkena bencana.

“Sebenarnya kita telah mengusulkan kepada pemerintah pusat untuk memperhatikan warga yang tinggal di bantaran sungai. Bantaran sungai setiap tahun semakin sempit dan dangkal. Makanya perlu ada pengerukan atau pendalaman sungai kembali. Itu perlu dilakukan disetiap sungai-sungai yang ada di Indonesia,” kata senator asal DIY.

Menurutnya, jika sungai mulai dangkal biasanya akan dijadikan tempat tinggal warga. “Seharusnya, izin bangunan di rumah bantaran sungai bisa menjadi perhatian pemda. Karena ini menyangkut keselamatan bersama,” jelas Hemas.

Saat di lokasi pengungsian, Hemasberpesan kepada para korban, bila tempat tinggal masih tersedia dan layak. Maka bisa segera kembali ketempat tinggalnya. “Jika masih ada rumahnya, segera kembali untuk menata kehidupan yang baru,” harapnya.