Pasar Properti Masih Lemah, Rumah Subsidi Terus Diminati
Peminat Properti (Foto: inapex)

JAKARTA, INAPEX.co.id, – Hingga saat ini, pasar properti di Indonesia, masih dikatakan lemah dari efek perlambatan ekonomi pada dua tahun belakangan.

Properti atau rumah yang terus diincar dan diminati konsumen yakni pada segmentasi menengah ke bawah.

Akan tetapi, dari segi kelanjutan bisnis pengembang, menjual rumah murah secara rutin dinilai kurang menguntungkan.

Walau bisnis properti di beberapa wilayah di Indonesia sedang menurun, sekarang ini adalah waktu yang cocok untuk berinvestasi properti.

“Ini saatnya membeli properti karena harga akan mulai menanjak naik karena ditunjang program pemerintah antara lain tax amnesty (amnesti pajak) dan LTV (Loan to Value),” papar Ketua Asosiasi Real Estate Broker Indonesia (AREBI) Dewan Perwakilan Daerah Banten Then Lie Min kepada pers, Selasa (4/10).

Ia menuturkan bahwa LTV memberikan kemudahan dalam pembayaran properti untuk konsumen. Pasalnya, dalam urusan membayar uang muka rumah atau down payment (DP), pembeli tak akan terbebani dengan jumlah banyak.

Misalnya, untuk pembelian rumah senilai Rp1 miliar. Sebelumnya konsumen mesti menyiapkan uang muka sebanyak Rp300 juta karena aturan LTV 70 persen.

Dengan keberadaan relaksasi LTV, walau DP tetap 30 persen, namun dapat dicicil hingga bangunan yang dibeli sudah berdiri sepenuhnya.

“Kalau begini konsumen yang diuntungkan karena mereka bisa cicil sampai bangunannya jadi. Kan lebih ringan bayarnya,” tambah Lie Min.

Kemudian efek dari amnesti pajak, jelas dia, para investor dapat membelanjakan uang yang sebelumnya secara tak langsung terpendam di luar negeri. Sejak asetnya telah dilaporkan, para investor tak takut lagi terkena pajak yang sangat tinggi.

“Sekarang mereka sudah hitung berapa asetnya dan bisa belanja dengan leluasa di Indonesia. Belanjanya di properti karena itu yang paling menguntungkan,” imbuh dia.

Terlepas dari itu, pada kesempatan berbeda, pengembangan Kota Baru Publik Maja mesti mampu mengakomodasi kebutuhan perumahan untuk masyarakat berpenghasilan rendah (MBR).

“Kota baru ini prinsipnya kan juga dikembangkan sama MBR yang rela bersusah-susah masuk ke daerah kosong dan kemudian mengisinya,” jelas Ketua Real Estat Indonesia (REI) Banten Soelaeman Soemawinata, kepada pers, belum lama ini.

Himbauan ini mendapat respon dari Badan Pengembangan Infrastruktur Wilayah (BPIW) Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR).

Menurut data BPIW, luas Kota Baru Publik Maja diprediksi seluas 18.276 hektare dengan alokasi kawasan perkotaannya sekitar 11.501 hektare.

Dari alokasi ini, 35 persennya atau setara dengan 4.025 hektare akan dipakai untuk perumahan dengan rincian 80 persen atau sekitar 3.220 hektare baru dan 20 persen atau 805 hektare adalah perumahan yang telah dibangun.

(kps)