Ilustrasi. (Foto: shutterstock)

JAKARTA, INAPEX.co.id – Ada sejumlah opsi saat beli rumah lewat skema Kredit Pemilikan Rumah (KPR). Apalagi ada istilah KPR tanpa DP (down payment) atau uang muka nol persen sering bikin penasaran calon konsumen properti. Tapi, apakah KPR tanpa DP tersebut lebih baik dibanding KPR dengan DP?

Vice President Consumer Loans Group Bank Mandiri, Rudi As Aturridha mengaku, dirinya harus mengambil KPR, akan memilih membayar DP. “Kalau saya (pilih) pakai DP,” kata Rudi saat ditemui di Plaza Mandiri, Jakarta, belum lama ini.

Rudi mengungkapkan, dengan menggelontorkan DP di awal, bisa menjadi motivasi untuk membayar cicilan.

“Karena itu akan menambah kewajibannya kita kalau sudah naruh duit berarti kayak kita sudah punya kewajiban. Tapi kalau misalnya kita enggak ada DP saya merasa nanti sudah biarin saja (bayarnya),” ujarnya.

Selain itu, Rudi menyatakan besaran angsuran atau cicilan yang dibayar tentu akan berbeda jika dengan DP atau tanpa uang muka.

“Contoh kalau beli rumah Rp 500 juta tidak ada DP, limit angsuran kreditnya Rp 500 juta. Kalau dengan DP Rp 500 juta dikurangi jumlah DP, jadi kecil. Jadi kalau saya tidak apa – apa duitnya sekarang saya ceburin jadi DP, cicilannya jadi kecil,” tambahnya.

Rudi menambahkan, tidak perlu khawatir dengan DP di awal sebab saat ini sudah banyak produk KPR yang menawarkan DP murah.

Sementara itu, kenaikan suku bunga KPR, dinilai tak mempengaruhi penyaluran rumah subsidi. Pasalnya, tren kenaikan bunga KPR PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk pada kuartal III/2018 KPR subsidi tumbuh 30,11% secara tahunan (yoy) menjadi Rp88,92 triliun.
Kemudian, KPR non subsidi tumbuh 13,22% yoy menjadi Rp74,69 triliun.

Apalagi, pertumbuhan KPR perseroan, baik subsidi dan non subsidi di atas rata-rata industri. Kondisi tersebut membuktikan kenaikan suku baunga dampaknya tergolong kecil.

“Tapi kalau menghitung dampak, lebih sensitif terkena non subsidi. Subsidi itu fix sampai lunas jadi minat masih besar,” kata Diretur Utama BTN Maryono di Menara BTN, Jakarta, belum lama ini.

Lebih lanjut dikatakan Maryono, pada kuartal III/2018, BTN menyalurkan pendanaan Rp220,07 triliun atau naik 19,28% (yoy).

BTN mencatat Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP) memberikan angin segar terhadap laju pertumbuhan kredit.

Selanjutnya bank milik negara ini akan berupaya mengoptimalkan sekaligus mendukung target program sejuta rumah yang menyasar masyarakat berpenghasilan rendah (MBR).

Secara keseluruhan kredit pemilikan rumah (KPR) masih menjadi tulang punggung bisnis BTN. Pendanaan untuk sektor itu tumbuh 21,81% (yoy) menjadi Rp126,61 triliun.