‘Ngojek’ 1 tahun bisa ajukan KPR Subsidi. . (Foto: istimewa)

 

JAKARTA, INAPEX.co.id – Ini merupakan kabar gembira bagi para mitra Go-Jek, karena salah satu cara untuk mewujudkan impian memiliki rumah yaitu bagi yang telah ‘ngojek’ bekerja sama selama 1 tahun bisa mengajukan Kredit Pemilikan Rumah (KPR) Subsidi.

Pasalnya, program Go-Jek Swadaya sedikitnya membidik 200 ribu mitra layanan transportasi online untuk menjadi debitur KPR PT. Bank Tabungan Negara Tbk (BTN). Selain itu, diprediksi pembiayaan dalam program Go-Jek Swadaya tersebut mencapai diatas Rp.2,6 triliun.

“Kami berharap 200 ribu mitra Go-Jek kami bisa layani dengan memberikan KPR subsidi maupun mikro sehingga mereka bisa memiliki kehidupan yang lebih baik lagi,” tutur Direktur Consumer BTN Handayani dalam konferensi pers di Kantor Go-Jek, baru-baru ini.

Lebih lanjut dikatakan Handayani, potensi penyaluran KPR dari program ini dapat mencapai diatas Rp2,6 triliun, dengan asumsi program ini diikuti oleh 20 ribu mitra. Secara rinci, Handayani menjelaskan, program KPR bersubsidi, mitra pengemudi Go-Jek dapat memiliki rumah dengan uang muka 1 persen dari harga rumah.

Tak hanya itu, suku bunga yang ditetapkan 5 persen dan berlaku tetap (flat) selama 20 tahun. Adapun maksimal harga rumah yang bisa dimiliki oleh pengemudi yaitu Rp141 juta per unit. Tipe rumah mulai 26 sampai 31 dengan luas tanah 60 hingga 70 meter persegi.

Sementara itu, kendati masih terganjal sejumlah persoalan terkait sertifikat tanah, namun program yang diinisiasi PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk terlihat sangat diminati driver Go-Jek. Karena, driver Go-Jek ini merupakan kategori pekerja informal dengan penghasilan tidak tetap.

Bahkan sejuah ini, mereka kesulitan mengajukan KPR di bank disebabkan tidak memiliki slip gaji sebagai bentuk bukti penghasilan per bulan. “Sudah ada 1.600 driver Go-Jek yang mengajukan aplikasi KPR Mikro,” ujar Direktur Konsumer Bank BTN Handayani.

Handayani menuturkan, pembayaran cicilan KPR Mikro ini bisa disesuaikan dengan kondisi keuangan kreditur, yakni harian, mingguan, dan bulanan.

Para driver Go-Jek tersebut, kata Handayani, lebih banyak yang memilih untuk mencicil KPR Mikro secara harian. Selain driver ojek daring, pekerja informal peminat KPR Mikro juga berasal dari pedagang dan nelayan. “Pedagang bakso dan mie mencicil harian, karena setiap hari dapat penghasilan,” tutur Handayani.

Sedangkan nelayan, sebut dia, cenderung membayar cicilan secara mingguan karena tidak setiap hari pergi melaut. Ia menambahkan, melalui KPR Mikro masyarakat bisa mengajukan kredit untuk merenovasi, membangun, atau membeli rumah dengan total maksimal Rp 75 juta.

Sejauh ini, kebanyakan pengajuan kredit untuk membangun rumah di atas tanah sendiri dan merenovasi rumah tidak layak huni. Namun, penyerapannya membutuhkan waktu karena terhambat proses sertifikasi tanah. Pasalnya, tanah masyarakat yang tengah mengajukan KPR Mikro tidak berstatus Hak Milik.

Menurut Handayani, untuk mengatasi hal tersebut, Bank BTN akan bekerja sama dengan Kementerian Agraria dan Tata Ruang atau Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN) dalam rangka percepatan sertifikasi.

Sementara itu, Go-Jek adalah sebuah perusahaan teknologi berjiwa sosial yang bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan pekerja di berbagai sektor informal di Indonesia.

Perusahaan ini, sedikitnya bermitra dengan 200.000 pengendara ojek yang berpengalaman dan terpercaya di Indonesia, untuk menyediakan berbagai macam layanan, termasuk transportasi dan pesan antar makanan. Kegiatan Go-Jek bertumpu pada tiga nilai pokok, kecepatan, inovasi, dan dampak sosial.

Para driver Go-Jek mengaku bahwa pendapatan meningkat semenjak bergabung sebagai mitra. Driver Go-Jek juga mendapatkan santunan kesehatan dan kecelakaan, serta mendapat akses melalui aplikasi.