MRT Akan Membangun Hunian Murah Berbasis TOD
Ilustrasi (Foto: mediaindonesia)

 

JAKARTA, INAPEX.co.id – Dari 13 stasiun yang dibangun pada proyek Mass Rapid Transit (MRT) Jakarta fase pertama, delapan di antaranya akan dikembangkan sebagai kawasan hunian berbasis Transit Oriented Development (TOD).

Kini, PT MRT Jakarta tengah mendesain masterplan untuk pengembangan hunian ini. Menurut rencana, hunian yang akan disediakan dirancang dengan konsep mixed use.

“Di beberapa tempat yang akan ditempatkan rumah susun. Di sini, (Stasiun) Lebak Bulus pasti. Sudah ada rusun, apartemen murah, yang juga berfungsi sebagai perkantoran dan kawasan komersial,” tutur Direktur Utama PT MRT Jakarta William Sabandar di Jakarta, baru-baru ini.

Hunian vertikal dipilih sebagai langkah untuk mengatasi angka kebutuhan rumah atau backlog yang masih besar.

Menurut data Pusat Pengelolaan Dana Pembiayaan Perumahan (PPDPP), besarnya angka backlog pada 2015 lalu masih sekitar 11,4 juta unit. Tidak hanya itu, lanjut William, dalam pengembangan konsep hunian ini, harus pula mempertimbangkan asas keadilan sosial.

Dalam hal ini, walaupun hunian yang akan dikembangkan berada di lokasi kelas atas, akan tetapi diharapkan juga bisa dinikmati masyarakat berpenghasilan rendah (MBR).

“Jadi meski kawasan mewah, tapi semua masyarakat bisa menikmati. Karena itu harus dikelola BUMD,” jelasnya.

Lebih jauh, pengembangan kawasan TOD memberikan manfaat yang luas untuk masyarakat. Pertama, volume arus kendaraan akan berkurang, yang tentu akan meminimalisir kadar polusi.

Masyarakat yang memilih tinggal di hunian TOD juga akan merubah gaya hidup, dari awalnya suka menggunakan kendaraan bermotor, beralih ke jalan kaki atau bersepeda.

“Kemudian, berpotensi menciptakan nilai tambah melalui peningkatan nilai properti. Serta menambah pilihan moda pergerakan kawasan perkotaan,” imbuh dia.

Terlepas dari itu, pada kesempatan berbeda, Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) cabang DKI Jakarta kembali akan menggelar Penghargaan IAI Jakarta 2018 yang dijadwalkan pada Maret 2018. Kegiatan tersebut merupakan penyelenggaraan yang keenam setelah IAI Jakarta Awards digelar April 2017 lalu.

Penghargaan bertujuan untuk mengapresiasi hasil karya arsitek profesional dan memberikan inspirasi untuk sesama rekan profesional, sekaligus melanjutkan tradisi baik yang sudah dimulai sejak tahun 2006.

Pada 31 Oktober  2017 – 18 Januari 2018 IAI Jakarta membuka pemasukan karya untuk semua arsitek anggota IAI di seluruh Indonesia, kemudian karya yang masuk diseleksi dalam penjurian dua tahap.

Karya yang boleh diikutsertakan dibatasi bangunan yang terletak di wilayah DKI Jakarta dan telah dipakai minimal selama satu tahun. Penghargaan tersebut difokuskan pada solusi dan pemikiran arsitektur terhadap peningkatan kualitas hidup manusia secara individu maupun bersama dalam konteks kota.

Kualitas hidup manusia secara langsung dibentuk oleh elemen fisik dan non fisik yang mesti dapat menanggapi tantangan kontemporer dari dimensi sosial, budaya, ekonomi, serta lingkungan.