Harga Semua Tipe Rumah Naik, Pembeli Diberikan Kemudahan
Ilustrasi (Foto: dok.inapex)

 

JAKARTA, INAPEX.co.id – Millennial menjadi golongan masyarakat yang paling banyak dibicarakan saat ini. Sejumlah laporan menyebut bahwa generasi ini akan menjadi masa depan konsumen dunia, termasuk di Indonesia. Di Indonesia sendiri dari jumlah 255 juta penduduk yang telah tercatat, terdapat 81 juta merupakan generasi millenials atau berusia 17- 37 tahun.

Sebenarnya siapa itu millennials? Millennials atau kadang juga disebut dengan generasi Y adalah sekelompok orang yang lahir setelah Generasi X, yaitu orang yang lahir pada kisaran tahun 1980- 2000an. Maka ini berarti millenials adalah generasi muda yang berumur 17- 37 pada tahun ini. Millennials sendiri dianggap spesial karena generasi ini sangat berbeda dengan generasi sebelumnya, apalagi dalam hal yang berkaitan dengan teknologi.

Generasi millennials memiliki ciri khas tersendiri yaitu, mereka lahir pada saat TV berwarna,handphone juga internet sudah diperkenalkan. Sehingga generasi ini sangat mahir dalam teknologi.

Kendati demikian, ada kekhawatiran bahwa generasi milenial tidak dapat membeli hunian di kemudian kelak.

Setidaknya, ketakutan tersebut tercermin dari survei per Desember 2016 yang menyatakan bahwa 94% kaum milenial usia 23-37 tahun memiliki kisaran gaji dibawah Rp 12 juta rupiah. Menurut studi tersebut, gaji sebesar itu hanya bisa mencicil rumah kurang dari Rp 3,6 juta per bulan.

Berkaca dari data tersebut, tentu agak sulit bagi milenial untuk memperoleh rumah. Mengapa demikian? Untuk kasus Ibukota, 95% harga suplai properti sudah di atas Rp 480 juta. Bahkan, studi menyebut bahwa hanya ada 1,76% suplai rumah di Jakarta yang harganya di bawah Rp 300 jutaan.

Harga rumah Rp 400 jutaan itu hanya mungkin bisa dibeli oleh milenial berpenghasilan lebih dari Rp 12 juta, yang jumlahnya berkisar 6% dari total populasi milenial Jakarta.

Berdasarkan data kependudukan, jumlah milenial di ibukota sendiri adalah 30% dari total penduduk Jakarta, atau sekitar tiga juta jiwa. Jika dikurang 6%, maka ada sekitar 2,8 juta jiwa kaum milenial di Jakarta yang bakal kesulitan membeli rumah apabila sampai saat ini, tidak ada mekanisme pembiayaan rumah yang menjanjikan bagi kalangan tersebut.

 

Kids-Jaman-Now
Kids Jaman Now (foto: google.com)

 

Lantas, mengapa kaum millennial tidak bisa memiliki rumah di Jakarta? Karena kaum millennials banyak menghamburkan uangnya untuk hal seperti gaya hidup seperti makan di luar, rekreasi dan liburan. Millennials haus akan pengakuan dari sekitar, jika melakukan travelling, mereka akan mengabadikannya dalam foto ataupun video dan disebarluaskan melalui media social. Tuaian pujian dari media social menjadi motivasi hidup mereka.

Perencanaan mengenai pembelian rumah hanya mengalir saja dan tidak termasuk dalam rencana pasti. Kaum millennial biasanya memasukkan travelling dibanding hal lainnya. Padahal, harga properti tentu akan naik tiap tahunnya.

Kaum millennial yang mampu membeli rumah di Jakarta sekitar 16,8%. Jumlah ini diprediksi akan terus menurun menjadi 2,7% hingga 2020.

Bahkan jika harga properti naik rata-rata 20% per tahun, kenaikan gaji rata-rata 10% per tahun dan asumsi KPR 15 tahun, kaum millennial tidak akan mampu membeli rumah di Jakarta. Hal ini karena cicilan KPR di atas kemampuan mencicil.

Ini artinya, hanya 17 persen saja dari generasi milenial Jakarta yang mampu membeli dan memiliki rumah. Itu pun dengan harga termurah Rp 300 juta. Hasil riset tersebut sekaligus merepresentasikan bahwa pengelolaan keuangan sudah seharusnya menjadi prioritas, dan diperhatikan lebih serius.

Menanggapi hal itu, pada Februari ini akan  diadakan pameran properti terbesar di Indonesia yaitu Indonesia Property Expo. Pameran ini akan diisi lebih dari 100 developer yang tersedia di penjuru Indonesia. Kaum millennials bisa menjadwalkan kehadirannya dikarenakan acara ini berlangsung selama 9 hari yaitu pada 3-11 Februari 2018 di Jakarta Convention Center, Senayan. Acara ini bisa menjadi patokan generasi millennial dalam pencarian rumah idamannya.