Ilustrasi (dok: itawakitsumaki)

JAKARTA, INAPEX.co.id – Milenial dinilai jadi pendorong utama disektor properti. “Pertumbuhan ekonomi khususnya sektor properti tidak lepas dari peran para milenial. Bank BTN menilai milenial bukan hanya menjadi objek tapi juga subjek yang akan menjadi pendorong utama sektor properti,” ujar Direktur Utama Bank BTN Maryono dalam perayaan hari jadi serta peluncuran produk cicilan rumah untuk generasi milenial di Hotel Kempnski, Jakarta, baru-baru ini.

Lebih lanjut Maryono mengatakan, BTN telah mengeluarkan program KPR Gaeesss pada triwulan III.

Menurutnya program itu, ditujukan kepada generasi muda, dengan skema cicilan kredit rumah menyesuaikan kemampuan generasi milenial. BTN juga mengajak milenial jadi pengusaha di bidang properti lewat pelatihan atau workshop yang disiapkan Housing Finance Center (HFC) dari BTN.

Bank BTN, masih dikatakan Maryono, optimistis dengan strategi yang bisa menggapai demand milenial dari seluruh lapisan masyarakat seperti Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR), kelas menengah ataupun atas, dan setiap generasi, baik milenial, generasi X, dan Baby Boomers.

Oleh sebab itu, Bank BTN terus berinovasi mengembangkan produk KPR disesuaikan dengan perkembangan ekonomi dan kemampuan masyarakat Indonesia.

Realisasi KPR yang diberikan oleh Bank BTN, masih dikatakan Maryono, mencapai 4,2 juta unit rumah, baik dalam bentuk KPR subsidi maupun non subsidi.

Kemudian untuk nilai KPR yang sudah terealisasi telah mencapai lebih dari Rp 257,6 triliun. “Pada tahun 2019, kami mematok pertumbuhan kredit sekitar 15 persen, dengan mengandalkan KPR sebagai pendorong utama selama Pemerintah memantapkan Program Satu juta rumah,” kata Maryono.

Maryono optimistis 2019 , Bank BTN mampu menyalurkan pembiayaan KPR BTN sekitar 850 ribu unit rumah.

Target tersebut naik 100 ribu unit dibandingkan target tahun ini yang sebesar 750 ribu unit. Menurut Maryono, berdasarkan pertumbuhan KPR berdasarkan perhitungan rata-rata per tahun sejak 2014-2018 berada di angka 22,6 persen.

“Pertumbuhan tersebut lebih pesat dibandingkan tahun 2014 karena dimotori oleh Program Satu Juta Rumah bergulir diikuti oleh sejumlah kebijakan diantaranya relaksasi Loan To Value dari Bank Indonesia,” tambahnya.

Selain itu, Maryono menilai, pekerjaan rumah untuk mengurangi backlog perumahan yang ditargetkan bisa turun hingga 5,4 juta rumah pada 2019 bukan hanya milik Bank BTN, ataupun pengembang dan pemerintah namun juga seluruh masyarakat bisa ikut berperan.

“Pertumbuhan properti juga disokong oleh sinergi BUMN dalam pengembangan kawasan Transit Of Development yang makin marak, kawasan hunian di wilayah tersebut akan menyerap banyak peminat khususnya milenial dan harus didukung oleh pembiayaan dari perbankan,” pungkas Maryono.