Mau Tidur Agak Enak di Penjara? Harus Bayar Rp.2,5 Juta
Ilustrasi (Foto: yukepo)

 

RIAU, INAPEX.co.id, – Pungutan liar (pungli) di Rumah Tahanan (Rutan) Kelas IIB Sialang Bungkuk Pekanbaru, Riau diduga merajalela. Untuk tidur agak enak di dalam sel saja, tahanan harus bayar dengan jumlah yang bervariasi.

Erlinda, keluarga seorang tahanan, membeberkan bahwa untuk pindah kamar di Rutan Sialang Bungkuk ada tarifnya. Nilainya sekitar Rp.7 juta-Rp.30 juta.

“Saya pernah membayar sebesar Rp.2,5 juta hanya agar adik saya bisa tidur layak di dalam sel yang agak longgar di dalam rutan. Sebelumnya, ia tidur di toilet sambil jongkok karena saking penuhnya itu sel,” tutur Erlinda dikutip pers, Senin (8/5).

Untuk menjenguk juga sama, pihaknya harus menunggu 3 sampai 5 jam. Bila ingin cepat, mesti membayar dengan harga yang beragam.

“Kami berharap pungli dihilangkan serta keluarga kami di dalam rutan mendapat binaan dengan perikemanusiaan,” harapnya.

Kesedihan di rutan itu juga disampaikan Haji Usman, Keluarga tahanan lainnya.

“Untuk menjenguk memang kami gratis selama 15 menit. Akan tetapi, jika lebih dari 15 menit, kami harus membayar sebanyak Rp.15 ribu sampai Rp.30 ribu per 5 menit,” ucap Usman yang sering ke rutan sebab anaknya menjadi warga binaan di rutan tersebut.

Menteri Hukum dan HAM Yasonna Laoly mengakui terjadinya pungli di rutan itu. “Saya minta kepolisian dan Tim Saber Pungli memerangi pemerasan yang diduga dilakukan petugas dan pejabat rutan dan LP di Riau,” tegasnya di Rutan Sialang Bungkuk, Pekanbaru, Kemarin.

Home Sweet Home

Memang kalimat “home sweet home” sangatlah benar. Kenyamanan tinggal di rumah daripada di penjara sebagus apapun tidak bisa dibandingkan.

Kalimat tersebut dibenarkan oleh Chiki Fawzi, bahkan menurutnya jika rumah tidak ada buku, rumah seperti tanpa jiwa. Putri dari pasangan selebritas Ikang Fawzi dan Marissa Haque tersebut dikenal sebagai seorang animator sekaligus penyanyi.

Chiki tertular kegemaran membaca dari sang bunda, yang sangat suka membaca buku. Di rumahnya tersedia banyak sekali buku. Bahkan, di salah satu ruangannya dijadikan perpustakaan.

“Menurut ibuku, kalau di rumah tidak ada buku, rumah jadi seperti enggak ada jiwanya. Makanya, ibu selalu menyediakan buku hampir di setiap sudut rumah. Ibu suka banget beli buku sejarah Islam, dan aku ikut baca. Ya karena ibu, aku jadi suka baca buku. Sampai sekarang, kami kalau belanja buku banyak,” tutur Chiki.

Dengan membaca, Chiki itu memetik manfaat. Pengetahuan dan wawasannya bertambah, perspektifnya juga meluas. “Aku jadi seperti merasa lebih banyak insight tentang kehidupan. Lebih pintar, cermat dan melihat dunia itu dalam banyak sudut pandang (perspektif),” tuturnya.