Masyarakat NTT Antusias Sambut Rumah Subsidi
Rumah Subsidi (Foto: vibizmedia)

JAKARTA, INAPEX.co.id, – Perkembangan properti terutama di segmen rumah bersubsidi di Nusa Tenggara Timur (NTT) begitu menggeliat. Menurut Ketua Dewan Pengurus Daerah Realestat Indonesia (DPD REI) Bobby T. Pitoby, pasar rumah murah di NTT juga begitu banyak.

“Di NTT masih ada backlog rumah sebesar 123 ribu rumah, ada 21 kabupaten dan 1 kota, tapi selama ini pengembangan perumahan masih terkonsentrasi di kota dan Kabupaten Kupang. Jadi sekarang kebanyakan masyarakat pekerja itu kost Rp.700 ribuan/bulan, makanya mereka sangat antusias dengan program KPR FLPP bersubsidi,” paparnya kepada pers di Jakarta, baru-baru ini.

Harga rumah bersubsidi di NTT dibandrol senilai Rp.133,5 juta dan tahun 2017 akan naik sebesar Rp.141 juta. Dengan KPR FLPP cicilannya dapat di bawah Rp.800 ribu/bulan dan keringanan lainnya seperti uang muka hanya Rp.1,5 juta dan bebas PPN.

Namun, pengembangan perumahan tersebut 80 persen masih fokus di kabupaten dan Kota Kupang selain sosialisasi program rumah murah ini masih cukup kurang.

Oleh sebab itu, Bobby sudah membentuk sejumlah konsorsium untuk menggarap proyek properti di semua kabupaten dan kota.

Dengan ini ada beberapa pengembang yang mengolah setiap kawasan kabupaten sehingga diharapkan nanti 2-3 tahun mendatang penyebaran proyek perumahan sudah merata dan masyarkat telah dimudahkan dengan berbagai fasilitas KPR.

“Saat ini kita sudah masuk ke Belu, Rote, Sika, Sumba Tengah, Sumba Barat Daya, dan Ende yang sudah mulai juga pembangunannya. Bukan hanya masyarakat, developer lokal juga masih banyak yang belum tahu program rumah murah pemerintah. Makanya dengan dibentuk konsorsium ini kita berharap seperti korek api, kita buat pemantiknya dan nanti akan tersulut dan berkembang,” imbuhnya.

Terlepas dari itu, pada kesempatan berbeda, Bali sebagai destinasi wisata terpopuler merupakan kawasan menjanjikan untuk pengembangan properti wisata, seperti kondotel, hotel, vila, dan resor.

Keempat jenis properti tersebut mendominasi penawaran properti di Bali dan jadi instrument investasi yang menarik untuk investor. Meski kalah semarak dengan sejumlah properti tadi pengembangan perumahan masih berlangsung.

“Denpasar itu kawasan paling sibuk dan merupakan pusat bisnis di Bali. Harga tanahnya tidak kurang Rp.15 juta/m2, kendati tinggi banyak investor dan end user  tetap saja mencari rumah di kawasan ini,” jelas pengembang Karang Sari Mansion, Teguh Susanto dalam publikasi yang diterima pers di Jakarta.

(he)